Monday, October 10, 2016

Dragonfly in Merapi Mountain #PhotoPick


Gandrung #3

Makanan di hadapannya dihabiskan dengan lahap. Satu, karena dia merasa sangat lapar. Dua, karena dia butuh tenaga untuk kabur dari tempat itu. Enggar sampai hampir tersedak saat menelan suapan terakhir. Diteguknya dengan bersemangat air di dalam mangkuk kecil yang terbuat dari tanah liat itu.
Setelah mengatur napas, dia mencoba bangkit dan berjalan. Kepalanya masih pusing, merasa dunia setengah berputar. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi tidak separah beberapa waktu tadi.
Pelan-pelan Enggar berjalan menuju pintu. Kedua tangannya berpegangan pada dinding pondok. “Bang Singo, aku mau ke sungai,” seru Enggar kepada lima orang yang sedang berkumpul tak jauh dari pondok. Singo Abang yang sedang makan itu segera meletakkan makanan dan berjalan ke arah Enggar. “Perutku sakit,” lanjut Enggar yang mengitarkan pandangan ke seluruh penjuru. Hatinya mulai diserang rasa takut ketika menyadari dia benar-benar berada di hutan yang lebat. Dan tidak ada tanda-tanda kegiatan syuting. “Aku mau ke sungai,” ulang Enggar pelan.
Singo Abang menghampiri dan membantu gadis itu berjalan, sembari memberikan kode kepada Sanip untuk menyiapkan pakaian ganti di pondok.
Singo Abang dan Enggar berjalan berdampingan. Lelaki itu memapahnya karena beberapa kali Enggar hampir terjatuh. Sesaat Enggar mencoba untuk melepaskan lengannya dari tangan Singo Abang, tapi tidak bisa. Lelaki itu memegang lengannya erat. Sesekali mereka bertatapan mata, namun seringkali Singo Abang menghindarinya.
Mereka tiba di sungai setelah berjalan kira-kira lima puluh meter.
Matahari belum benar-benar tenggelam, tapi hanya sedikit cahaya yang bisa menerobos hutan ini, apalagi dalam keadaan mendung. Dengan sedikit susah payah, Enggar duduk di sebuah batu di pinggir sungai.
“Bisa kau menyingkir dulu?” tanya Enggar saat dia mulai merendam salah satu kakinya ke dalam air.
“Aku harus mengawasimu,” kata Singo Abang.
“Mana bisa aku melakukan yang harus kulakukan kalau kamu di situ?”
Singo Abang tidak juga beranjak. “Aku tetap di sini, tapi aku tidak akan melihatmu. Kau bisa pegang kata-kataku. Cepatlah.”
“Kalau aku hanya cuci muka, kau tungguin di sebelahku pun aku nggak keberatan, Bang. Tapi ini memenuhi panggilan alam. Aku butuh privasi.”
“Kenapa butuh itu segala?” Singo Abang tidak bisa mengulangi kata asing yang baru saja diucapkan Enggar.
“Privasi. Aku butuh untuk  sendirian. Kuatir apa sih, aku nggak mungkin bisa lari. Mana berani aku kelayapan di hutan, sudah gelap begini. Masih ada harimaunya juga kan di sini?”
“Ya. Kadang mereka turun ke sungai juga.” Singo Abang tidak bermaksud menakut-nakuti Enggar, tapi wajah gadis itu sudah terlanjur pucat. “Aku akan membalikkan badan.”
 “Jangan mengintip.”
Enggar turun ke sungai dan membasuh wajahnya. Dia tadi memang kebelet, tapi sekarang nggak. Dia mencari jalur yang tercepat untuk ngabur. Menyeberang saja terus menembus gerumbul di sana.
Singo Abang mendesah. Ini sebenarnya bukan urusan dia sama sekali. Terlibat dengan masalah orang lain tidak masuk dalam agendanya. Dia sudah cukup kenyang menghadapi masalahnya sendiri. Tapi sejak peristiwa pembunuhan putra pertama Tumengung Sukmo, mau tak mau dia harus ikut campur. Pangeran Palawa, kekasih Puteri Anggoro, orang yang pernah menyelamatkan nyawanya, meminta bantuan. Dia tidak mungkin menolak.
Menyembunyikan Puteri Anggoro membuatnya menjadi orang paling dicari. Tumenggung Sukmo pasti sudah menyebarkan anak buahnya, atau bahkan meminta para pendekar dunia persilatan untuk memburu Singo Abang. Satu orang yang sudah pasti mengejarnya adalah Pangeran Haryo. Rivalnya sejak kecil.
Kenapa Puteri Anggoro ada di kamar Raden Sukmana, anak Tumengung Sukmo, ketika dia dibunuh? Itu masih menjadi pertanyaan besar. Yang pasti tuduhan ada padanya, karena di tangan Puteri Anggoro ada sebilah keris penuh darah yang telah digunakan untuk membunuh Raden Sukmana.
Singo Abang bersama Jandul berhasil menculik Puteri Anggoro saat dia dibawa ke penjara Sadeng. Belum ada yang tahu pasti identitas mereka, kecuali Pangeran Haryo. Kecerobohan Singo Abang memberinya petunjuk. Ikat kepalanya terjatuh.
“Puteri, sudah selesai? Puteri.” Singo Abang tersadar dari lamunannya. Menyesal dia karena tidak berkonsentrasi terhadap keberadaan gadis itu. Apalagi suara riak sungai dan serangga mengaburkan suara yang lain. “Aku akan membalikkan badan, tidak peduli kau sedang apa.” Singo Abang menghitung sampai tiga baru membalikkan badan. Seringai gemas menarik wajahnya ke atas. Sial. Puteri itu hilang!
Sementara itu tak jauh dari sungai, Enggar berlari sekencang-kencangnya, tidak peduli ke mana, yang penting dia bisa lepas dari orang-orang itu. Tubuhnya yang terasa sakit di sana sini tidak dipedulikannya. Keinginan yang kuat untuk melarikan diri ternyata memberikan tambahan energi yang cukup untuk membawanya pergi.
“Aaaaa...” Kaki Enggar terperosok. Tubuhnya tertarik ke bawah, bergulingan dan terhenti, menabrak batang pohon. Enggar tak bergerak lagi.
Suara guntur menggelegar dan hujan turun dengan derasnya.

***

“Hahh!” Enggar terbangun dengan kaget. Dedaunan dan tanah basah menempel di tubuhnya. Rambutnya yang panjang berantakan tidak karuan. Kepalanya berputar, melihat sekeliling. Semuanya gelap. Segumpal rasa kecewa menyesakkan dadanya, mengapa dia masih berada di tempat asing ini.
Mungkinkah semua hanya mimpi? Kenapa dia ada di Majapahit? Apa karena hal terakhir yang ada di kepalanya sebelum gempa adalah tentang Majapahit. Lalu memori itu terbawa dalam mimpi.
Enggar pernah tiga hari berturut-turut main tetris dan setiap malam mimpinya selalu mengatur balok-balok berbagai bentuk itu untuk mendapatkan poin tertinggi. Kali ini dia mimpi berada di Majapahit karena sebelumnya dia melihat dan melihat benda-benda yang berhubungan dengan Majapahit. Ya, pastinya begitu.
Kalau ini mimpi, maka yang harus dilakukannya sekarang adalah bangun dari tidur, lalu semua kembali normal. Begitu kan? Tapi dia sudah bangun, dan masih terjebak di sini.
Enggar bangkit, meraba-raba dalam gelap. Setelah beberapa saat, matanya mulai beradaptasi dengan pencahayaan yang minimal itu. Enggar mencari dahan yang terjatuh untuk digunakan sebagai tongkat. Itu akan membantunya untuk membuka jalan atau pegangan saat berpijak.
Ada suara menguik serak di sebelah kanannya. Kalau tidak salah menduga itu suara babi hutan. Enggar buru-buru menjauh sumber suara dengan tetap berusaha untuk tidak membuat keributan.
Lalu terdengar suara auman. Lutut Enggar gemetaran. Keringat dinginnya meluncur. Napasnya jadi pendek-pendek. Jangan bilang itu harimau....
Enggar sibuk membangun keberanian. Lambat laun dia mulai bisa menguasai diri. Hingga kemudian terdengar suara auman ditingkahi suara menguik panik. Apakah sedang terjadi mangsa diterkam pemangsa? Jantung Enggar rasanya sudah melompat keluar dari rongga dadanya dan terjatuh di tanah, takut bukan kepalang kalau hewan-hewan itu berlari ke arahnya. Dengan sisa kekuatan yang ada dia mengangkat kainnya dan memanjat pohon yang dahan pertamanya cukup pendek untuk bisa digapai. Doa tidak putus dari mulutnya. Semoga harimau itu hanya memangsa babi hutan dan bukan dirinya.
Detik demi detik yang menegangkan terasa lama. Dari suaranya, harimau itu nampaknya sudah dapat mangsa. Enggar masih gemetaran di dahan pohon, tak lepas dari doa. Hawa dingin semakin terasa, meskipun hujan sudah reda.
Sekarang dia agak menyesal telah melarikan diri. Seharusnya dia tinggal dulu bersama mereka di pondok itu. Setidaknya di sana relatif aman dari hewan-hewan, tidak dingin karena ada perapian.
Enggar tersedu pilu tanpa suara.
Sementara tak jauh dari tempat itu, Singo Abang menggeram. Obor yang ada di tangannya digerakkan ke beberapa arah. Sudah hampir dua jam mencari Puteri Anggoro tidak juga ketemu.  
Dimana dia? Singo Abang tidak berani membayangkan apa yang bisa terjadi pada Puteri itu di hutan seperti ini. Dia sama sekali tidak membawa senjata, tubuhnya sedang lemah dan tidak mempunyai kemampuan melindungi diri.
Seharusnya dia tidak meminta anak buahnya menyembunyikan Puteri Anggoro di hutan. Tapi siapa juga yang menyangka Puteri itu bakalan melarikan diri.
Tak jauh dari tempat itu, Enggar yang hampir tertidur di atas pohon itu terhenyak. Ada sesuatu yang bergerak melewati lehernya. Dingin, empuk dan agak berat. Instingnya bilang itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi setelah dia betul-betul yakin apa yang melewatinya. Seekor ular, sebagian tubuhnya berada di leher Enggar, sementara kepala ular itu tak jauh dari wajahnya. 
“Innalillahi,” batinnya. Enggar berusaha untuk tidak bergerak. Bahkan dia berusaha tidak bernapas.
Ular itu terus menggeser tubuhnya. Enggar hanya bisa berdoa supaya ular tidak sedang lapar dan tidak tertarik padanya.
“Puteri! Puteri Anggoro!” Ada suara memanggil. Suara Singo Abang. Enggar nggak menyangka dia akan begitu bahagia mendengar suaranya. Secara reflek Enggar bergerak.  
“Aaaaaaa...!!!” Suara jeritan terdengar diikuti suara sesuatu yang berat terjatuh ke tanah. Ular itu telah membelit tubuh Enggar.
Singo Abang berlari ke arah datangnya suara. Obor yang dibawanya diarahnya ke bawah.
“Jangan bergerak. Kalau kamu bergerak dia akan semakin kencang membelitmu. Aku akan membebaskanmu.” Singo Abang mengeluarkan pedangnya.
Enggar tidak bisa melihat dengan jelas pergulatan antara Singo Abang dan ular yang ternyata berukuran besar itu. Melihat bentuk dan ukurannya, ini adalah jenis boa. Ular ini tidak berbisa, tapi membunuh dengan cara membelit hingga korbannya mati lemas dan remuk tulangnya.  
Bau anyir tercium. Enggar merasakan tubuhnya terlepas sepenuhnya dari ular itu. Tapi dia sudah tidak punya kekuatan untuk bergerak. Dari sinar obor yang tergeletak di tanah dan hampir mati, Enggar melihat ular itu sudah tidak berkepala. Cairan berwarna gelap mengalir dari bagian tubuhnya yang terpotong.
“Puteri, kamu tidak apa-apa?” Singo Abang menarik tangan Enggar, membantunya berdiri. Lelaki itu menyangka puteri akan berontak lagi dan menjauh, tetapi yang terjadi malah gadis itu memeluknya erat dan menangis sesenggukan. Untuk sesaat Singo Abang seperti kena sihir, hanya mematung. Tubuh Enggar yang gemetaran kemudian menjadi lunglai. Rupanya dia pingsan.
Diangkatnya tubuh Enggar dan dibawanya pergi.
*** 

Friday, October 07, 2016

Gandrung #2

Suara seresah terinjak-injak oleh kaki manusia membuat telinga rusa jantan itu berdiri. Sikap waspada ditunjukkannya. Rusa itu mengarahkan telinga ke arah suara itu berasal. Lalu dia lari, melompati gerumbulan semak dan menghilang di balik pepohonan.
Tiga orang berjalan terburu-buru. Pakaian mereka berwarna hitam dengan kain batik membalut bagian pinggang. Seorang dari mereka membawa bungkusan yang dipanggul di punggung, bertubuh gempal, dengan wajah bulat dan berambut lurus. Sebuah golok menggantung di pinggang kanannya. Seorang lagi bertubuh tinggi kurus, membawa pedang. Tidak ada sehelai rambut pun di kepalanya. Bisa terlihat jelas bekas luka di berjajar di kepala gundulnya itu.
Sang pemimpin, orang yang paling depan, bertubuh tinggi tegap, sedikit lebih tinggi dari si gundul. Rambut gondrong, diikat sembarangan. Wajahnya berewokan, tidak rapi. Ikat kepalanya berwarna merah.
“Dimana dia disembunyikan, Mijil?” tanya si pemimpin kepada si gempal.
“Di pondok di tengah hutan, dekat aliran sungai, Ketua,” jawab Mijil.
Mereka berjalan lagi. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Sang Ketua mengangkat tangannya, memberi tanda agar mereka berhenti. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Dua orang anak buahnya mencabut senjata. Mereka dalam posisi siap menyerang. Pendengaran ditajamkan, penglihatan dimaksimalkan. Desau angin menggoyang daun-daun dan suara satwa memekik di kejauhan. Menegangkan.
“Kalian tidak mendengar sesuatu?” bisik Sang Ketua.
“Tidak, Ketua,” bisik Mijil.
“Tetap waspada,” ujar Sang Ketua disambut anggukan oleh anak buahnya.
Sekitar lima belas menit kemudian mereka bertemu aliran sungai kecil. Mengikuti arah yang berlawanan dengan aliran air, mereka tiba di tempat yang dituju. Di balik semak tinggi ada sebuah pondok yang tersembunyi dari pandangan mata.
“Uhu huuu,” seru Mijil, menirukan suara burung. Ditunggu sesaat, tidak ada suara balasan seperti kesepakatan. Ketiga orang itu saling pandang. Singo Abang memberi kode agar Mijil mengulanginya. “Uhu huuu..”
Lagi-lagi sepi.
Tidak sabar lagi, Sang Ketua menebas semak dengan gusar dan bergegas menuju pondok. Pedang terhunus di tangannya.
“Pangeran.” Seorang pria tinggi besar, muncul dari dalam pondok, tergesa menyambut Sang Ketua. Dia bernama Bogar. Keahliannya memasak dan meramu obat-obatan. Bogar berjongkok, menyembah si Ikat Kepala Merah.
“Pangeran.” Datang lagi seorang pemuda kurus dari dalam pondok. Dia bernama Sanip, keahlian memanah dan berburu hewan.
“Apa gunanya membuat sandi kalau tidak dipakai?” ucap Sang Ketua berang. Kedua orang di depannya menunduk lebih dalam, tanda mereka merasa bersalah. “Berdiri berdiri! Sudah berapa kali aku katakan jangan menyebut pangeran, apalagi menyembahku. Ingat, namaku Singo Abang.” Singo Abang hendak masuk ke dalam pondok, tapi urung. “Kutinggal dua hari apa Puteri Anggoro sempat sadar?”
Keduanya saling pandang, mau mengatakan sesuatu tapi tidak berani. Singo Abang memelototkan mata, curiga kalau telah terjadi sesuatu.
“Am..Ampun, Ketua, itu... anu...” Sanip gelagapan. “Saat ini masih belum sadar lagi,” lanjutnya pelan.
“Belum sadar lagi? Jadi tadi sempat sadar?” tanya Singo Abang agak bersemangat. Buru-buru laki-laki itu masuk ke dalam pondok kecil itu. Saat pintu dibuka, dilihatnya ada sesosok gadis tergolek di atas balai-balai. Kaki, tangan dan mulutnya terikat kain. Rambut gadis itu terurai berantakan. Sisa lelehan air mata terlihat jelas di pipinya. Matanya tertutup rapat. “Bogar! Sanip! Kenapa tangan dan kakinya diikat? Kenapa mulutnya disumpal? Kalian apakan dia? Kan sudah kubilang jangan disakiti!” teriak Singo Abang dari dalam pondok.
Sanip dan Bogar tergopoh-gopoh menghadap Singo Abang yang sedang membuka ikatan pada tubuh Puteri Anggoro, disusul dua orang yang lain.
 “Ampun, Ketua. Saat Puteri Anggoro sadar dan berteriak-teriak tidak keruan, beliau juga mengamuk, Ketua. Kami dipukuli dan ditendangi, terpaksa kami ikat kaki dan tangannya. Saat saya mau menenangkannya, saya malah digigit, jadi saya tutup saja mulutnya dengan kain.” Wajah Sanip sudah pucat pasi. Bogar agak gemetaran di sebelahnya.
Tatapan mata Singo Abang setajam pedang yang bisa membelah pohon bambu dalam sekali tebas. Keringat dingin mengucur dari pelipis Sanip dan Bogar. Meskipun sudah beberapa waktu menjadi anak buat Singo Abang, mereka masih suka ngeri kalau melihat pemimpinnya marah. “Puteri Anggoro bisa berteriak dan memukul?” tanya Singo Abang pelan-pelan, memastikan dia tidak salah dengar ucapan Sanip tadi.
“I..iya, Ketua,” Bogar menjawab, Sanip menganggukkan kepala.
“Puteri Anggoro selama ini seperti mayat hidup karena racun. Kalaupun sadar, dia hanya bisa membuka mata saja, tidak bisa bergerak lebih dari itu. Kalau sekarang dia bisa berteriak dan memukul, maka ada kemungkinan pengaruh racunnya sudah mulai berkurang,” ucap Singo Abang sambil menoleh ke arah Jandul. Jandul menganggukkan kepala tanda dia memiliki pemikiran yang sama. “Hm, bagus. Kalau kesadarannya pulih, aku akan lebih mudah membantunya.”
“Kita harus lebih waspada, Ketua. Membawa Puteri Anggoro dalam keadaan sadar akan mengundang banyak perhatian kalau kita tidak berhati-hati,” kata Mijil.
“Kamu benar, Mijil. Apalagi Tumenggung Sukmo dari Mertabumi sudah mengirim orang untuk mencari kita. Bahkan Haryo juga ikut,” ujar Singo Abang.
“Tapi jarak kita masih aman, Ketua,” kata Mijil lagi.
 “Aku tidak yakin kita akan terus aman. Mereka punya orang-orang yang cekatan. Kalau kita tidak cepat, mereka bisa menghadang sebelum kita sampai tujuan.” Singo Abang menggelengkan kepala. “Aku akan mencoba menyadarkan Puteri Anggoro lagi. Kalian berjaga-jaga dan siapkan makanan,” perintahnya.
“Baik, Ketua.”
Singo Abang berjongkok di samping balai-balai. Tangannya bergerak mengambil sesuatu dari kantong bajunya, sebuah botol keramik kecil yang berisi cairan dengan bau menyengat untuk membuat siuman orang pingsan. Baru saja Singo Abang hendak mendekatkan botol itu ke hidung Puteri Anggoro, tiba-tiba mata sang puteri terbuka dan terbelalak lebar.
“Huaaaaa!!” Teriakan puteri itu membuat burung-burung yang sedang bertengger di dahan terbang. “Ini tempat apa?? Kenapa aku bicara dengan bahasa aneh ini?!”
“Puteri, tenanglah. Jangan teriak-teriak seperti itu.” Singo Abang berusaha menenangkan. Dia memeriksa dahi gadis itu, memastikan tidak sedang demam dan berhalusinasi karenanya.
“Siapa kau? Tolooong!” teriak sang puteri. Raut wajahnya terlihat panik, apalagi saat melihat pedang yang dibawa oleh laki-laki berewokan itu. Dia menepis tangan Singo Abang dan berlari keluar. Tapi baru dua langkah tubuhnya luruh. Beruntung Singo Abang menangkapnya terlebih dahulu sebelum dia jatuh ke lantai pondok. “Jangan bunuh akuuuu...” Gadis itu sesenggukan.
 “Puteri, badanmu masih lemas karena berhari-hari tidak kemasukan makanan. Harap beristirahat dulu di balai-balai. Hidangan sedang disiapkan, Puteri Anggoro bisa makan sebentar lagi.” Singo Abang yang menggendong puteri itu kembali ke tempat tidurnya nampak sedikit bingung. “Puteri Anggoro, aku akan mengingatkanmu tentang kejadian tiga hari lalu. Saat orang-orang Tumenggung Sukmo membawamu ke Sadeng, aku, Jandul dan Mijil menculikmu untuk menyelamatkanmu dari eksekusi. Tujuanku adalah membawamu ke kotaraja, menemui paduka Jogoroso, hakim istana, untuk mendapatkan keadilan. Kami berpikir Puteri telah dijebak,” kata Singo Abang. “Aku belum tahu kejadian sebenarnya, tetapi banyak kepentingan yang bermain di sini. Kalau Puteri mau menceritakan kepadaku, aku mungkin bisa membantu,” kata Singo Abang.
Gadis yang dipanggil Puteri Anggoro itu melongo sesaat sebelum akhirnya menangis lagi. “Huhuhu.. namaku Enggar, bukan Puteri Anggoro. Aku mau pulang. Jam berapa ini, kenapa gelap? Kenapa aku ada di sini?” tanya sang puteri. Matanya melihat kesana kemari. Ketakutan masih menguasainya. “Mas Ito, ini dimana? Mana Mas Ito?” tanyanya pada Singo Abang. “Bunda... Ayah...”
“Namamu Enggar?” tanya Singo Abang memastikan tidak salah dengar. Kenapa puteri menyebut namanya Enggar?
“Iya. Namaku Enggar Penggalih, mahasiswa semester tiga fakultas ekonomi manajemen UI. Aku tadi sama Mas Ito di Museum Nasional, lalu ada gempa, sepertinya kepalaku kejatuhan benda berat dan mungkin pingsan. Pas bangun, kenapa aku ada di sini? Ini tempat apa?” Enggar celingukan.  
Tidak ada satu kalimat pun yang bisa dicerna oleh Singo Abang. Entah Puteri Anggoro kesurupan apa sampai mengatakan hal yang sama sekali tidak dimengerti olehnya. Atau mungkin racun itu sudah merusak isi kepalanya.
Gadis cantik anak almarhum Adipati Rekso itu seperti zombi ketika diculiknya. Sorot matanya kosong. Orang-orang bahkan sudah menduganya nggak waras. Kalau melihat perkembangan sekarang, mungkin mereka benar. Puteri Anggoro sudah gila.
“Ketua, apa semua baik-baik saja? Kami mendengar teriakan.” Dari pintu muncullah Mijil dan Jandul. Senjata tajam sudah terhunus di tangan masing-masing.
Wajah Enggar makin pucat. Kenapa banyak sekali wajah asing yang dilihatnya, seram dan kotor seperti tidak pernah mandi berhari-hari. Terlalu tidak masuk akal, jadi pasti ini rekayasa.
“Ini reality show kan? Aku dikerjain ya? Kalian aktor semua, iya kan? Pasti ini juga rambut dan jenggot palsu.” Tanpa berpikir panjang Enggar menjambak rambut dan menarik jenggot Singo Abang sekuat tenaga. Laki-laki itu menyeringai kesakitan dan menggebrak balai-balai. Lambang kejantanannya dilecehkan begitu saja, dia jadi emosi. Wijil dan Mijil memejamkan mata. Kalau saja Puteri Anggoro tahu siapa sebenarnya laki-laki yang ada di hadapannya itu, pasti dia akan memohon ampun. “Kok asli?” gumam Enggar heran.
“Puteri Anggoro, sebaiknya sekarang istirahat dulu saja sambil menunggu makanan matang. Setelah makan dan tidur pikiran akan lebih tenang.” Singo Abang mencoba untuk bersabar lagi.
“Aku mau pulang saja, Pak. Tolong.” Enggar merajuk. Tangannya mengguncang-guncang lengan Singo Abang.
“Namaku Singo Abang, bukan Pak,” kata Singo Abang sembari melepaskan jari-jari tangan Enggar yang mulai mencengkeram lengannya.
“Bang Singo, aku mau pulang. Nggak diantar nggak apa-apa deh. Ini dimana sih kok sepertinya ada di hutan. Ini di Taman Safari ya?” tanya Enggar yang mengintip ke luar dari sela-sela dinding pondok. “Punya hape nggak, Bang, pinjam dong buat nelepon rumah.”
Singo Abang menggaruk kepala, semakin tidak mengerti apa yang dibicarakan gadis itu. Sekali lagi Singo Abang meminta puteri untuk menenangkan diri sementara dia bersama anak buahnya keluar dari pondok.
“Ketua, Puteri Anggoro apa sudah tidak waras?” tanya Mijil hati-hati saat mereka sudah berkumpul di halaman pondok. Harum umbi bakar menyeruak, menggugah selera. Ikan yang dibawa oleh Mijil sudah dibumbui oleh Bogar dan siap dibakar.
“Aku kuatir begitu,” gumam Singo Abang. “Sanip, Bogar, kalian pasti melewatkan sesuatu. Ketika aku meminta kalian menyembunyikan Puteri Anggoro, dia tidak seperti ini. Apa terjadi sesuatu dengannya yang kalian belum ceritakan padaku? Apa kalian memberinya makanan atau ramuan yang aneh-aneh sampai dia jadi begitu?”
“Ampun, Ketua. Kami benar-benar tidak melakukan apa-apa, kecuali yang sudah Ketua perintahkan. Memberinya ramuan obat sehari tiga kali,” kata Bogar, diiyakan oleh Sanip dengan anggukan kepala berkali-kali.
Singo Abang duduk di sebuah batang kayu yang tumbang. Otaknya berpikir keras mencari-cari penjelasan yang masuk akal mengenai keadaan Puteri Anggoro. Dia harus sekali lagi memastikan bahwa Puteri Anggoro dalam kondisi waras agar bisa diajak bekerja sama membongkar persekongkolan itu.
“Maaf, Ketua, ini makanannya sudah siap.” Bogar menyerahkan makanan kepada Singo Abang. Makanan itu kemudian dibawa Singo Abang sendiri untuk diberikan pada sang puteri. Dia mencoba berkomunikasi lagi dengan Puteri Anggoro.
Mata Enggar membuka ketika mendengar kedatangan seseorang. Si berewok itu lagi. Selama dia ditinggalkan sendiri, Enggar berpikir keras tentang apa yang terjadi. Dia masih hidup, itu hal yang pasti. Pertanyaannya adalah: dia ada di mana, siapa orang-orang itu, dan kenapa mereka memanggilnya Puteri Anggoro?
Dia sangat berharap sedang dikerjain oleh orang-orang usil, karena kalau ini kenyataan akan terlalu mengerikan. Dandanannya seperti sedang main ketoprak atau wayang orang, memakai kemben yang ditutup selendang dan kain untuk bawahannya. Rambutnya pun panjang asli, tidak ditambah hair extention. Dia bahkan bisa berbicara dengan bahasa kuno. Kalau tidak sedang dikerjain, dia pasti sedang bermimpi. Tapi melihat bekas cubitannya sendiri di tangan, ini bukanlah mimpi.
“Bagaimana keadaanmu, Puteri Anggoro?” Singo Abang muncul, mendekat ke arahnya. Harum makanan membuat perut Enggar melilit.
“Kita sebenarnya dimana sih, Bang?” tanya Enggar.
“Hutan Wonokawi, lima hari perjalanan menuju kotaraja Majapahit,” jawab Singo Abang yang sontak membuat Enggar nyengir.
“Hehehehe...Majapahit? Becanda nih, Abang.” Enggar mendorong Singo Abang yang meletakkan makanan di sampingnya. Singo Abang menahan napas, mencoba bersabar. “Mana mungkin aku ada di Majapahit. Majalengka kali,” tukas Enggar.
 “Ini memang Majapahit.”
“Majapahit asli? Berarti sekarang Raja Hayam Wuruk lagi nongkrong di istana dong. Boleh dong minta waktu ketemuan,” canda Enggar saking stresnya.
“Siapa Hayam Wuruk itu?” tanya Singo Abang.
“Ya raja Majapahit lah, masa raja hutan,” jawab Enggar dengan tampang culun. Singo Abang mengerutkan alis. Kelihatan bingung. “Masa nggak kenal Hayam Wuruk sih, Bang? Dia orang sini juga, cucunya Sri Kertarajasa Jayawardana,” ujar Enggar dengan gaya ibu-ibu gosip.
Ekspresi wajah Singo Abang semakin terlihat puyeng. “Tidak ada pangeran yang bernama Hayam Wuruk,” ujar Singo Abang.
 “Ah, Abang orang sini bukan sih? Ketahuan kan kalau ini Majapahit palsu. Kalau tidak ada yang bernama Hayam Wuruk, ini emang Majapahit tahun berapa?” tanya Enggar. Saat menyebutkan Majapahit tadi dia menggerakkan jari telunjuk dan tengah kedua tangannya untuk memberi “tanda petik”.
“1329,” jawab Singo Abang.
 “Kalau tahun 1329 Hayam Wuruk emang belum ada. Lima tahun lagi dia baru lahir,” guman Enggar. Karena belakangan dia dicekoki sejarah Majapahit oleh kakaknya, sedikit banyak dia tahu. “Jadi yang sekarang jadi raja...”
“Ratu. Ratu Tribuana Tunggadewi Jayawisnuwardani,” sahut Singo Abang, mulai penasaran dengan arah pembicaraan Enggar.
““Tahun segini Gajah Mada belum menjadi mahapatih ya,” celetuk Enggar.
“Kamu bilang apa tadi? Mahapatih Majapahit sekarang adalah Aryo Tadah. Apa nanti Gajah Mada yang akan menggantikannya menjadi mahapatih?” tanya Singo Abang dengan mata menatap lurus kepada gadis di hadapannya. “Kamu bisa meramal atau hanya mengacau, Puteri Anggoro?” Singo Abang masih belum melepas tatapan matanya dari Enggar.
 “Bang, namaku Enggar, bukan Puteri Anggoro. Enggar Penggalih.” Enggar mencoba tidak berkedip untuk meredakan jantungnya yang berdebar aneh.
“Kamu itu Puteri Anggoro, anak almarhum Adipati Rekso. Sekitar satu minggu lalu, kamu dinyatakan membunuh anak Tumenggung Sukmo dari Mertabumi yang bernama Sukmana. Orang-orang menemukanmu berada di sebelah mayatnya, dengan membawa keris penuh darah. Kamu terbukti bersalah dan akan dihukum mati.” Singo Abang mengembalikan pembicaraan ke topik semula. Informasi dari gadis itu mengenai Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada sangat dini untuk dapat dipercaya, jadi akan dianggapnya omong kosong.
“Mana mungkin aku membunuh orang. Mengarangnya jangan terlalu indah deh, Bang. Kuberitahu sekali lagi ya, Bang, tolong didengarkan baik-baik. Namaku Enggar Penggalih. Terakhir kali kuingat aku berada di Museum Nasional, sedang lari dari gedung saat gempa. Sesuatu menimpa kepalaku dan aku pingsan. Setelah sadar aku berada di sini dan sekarang aku mau pulang.” Enggar mengatakannya pelan-pelan, berharap Singo Abang percaya.
Lagi-lagi mereka bertatapan mata agak lama. Entah kenapa kali ini Singo Abang terlihat sedikit jengah dan dia memalingkan muka.
“Racun yang mereka berikan kemungkinan sudah merusak syarafmu. Aku tidak tahu apa Mpu Soma bisa menyembuhkanmu, Puteri.” Singo Abang membelakangi gadis itu. “Kita akan meninggalkan tempat ini besok pagi-pagi sekali. Pangeran Palawa akan menemui Puteri di perbatasan,” putus Singo Abang. Nampaknya dia harus segera mencari jawaban atas keanehan Puteri Anggoro dan itu bisa dilakukan kalau dia cepat-cepat menemui orang yang berkompeten untuk menjawab fenomena tersebut.
“Hah? Aku mau dibawa kemana? Siapa lagi itu Pangeran Palawa?” Enggar kelabakan. Gawat kalau dia dibawa pergi ke tempat yang lebih asing.

Enggar menelan ludah. Karena tidak tahu siapa mereka sebenarnya dan apa maunya, maka hanya ada satu hal yang bisa dilakukan sebagai langkah pertama. Melarikan diri!
***

Thursday, October 06, 2016

Gandrung #1

“Jadi kita ngapain di Museum Nasional ini, Mas?” tanya Enggar pada kakak laki-lakinya, Ito.  Gadis manis berambut bob itu terlihat malas mengikuti Ito yang sedang sibuk memotret sebuah prasasti. Laki-laki muda berkaca mata berambut cepak di depannya membalikkan badan, bola matanya berputar. Ini pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya dilontarkan Enggar.
“Satu, membantuku melengkapi data untuk skripsi dan novel fiksiku tentang Majapahit. Dua, kita ada janji ketemuan dengan seniorku yang menemukan benda bersejarah dari jaman Majapahit beberapa minggu lalu saat penggalian situs di Trowulan,” jawab Ito, masih mencoba bersabar. “Seru sekali ya melakukan penggalian dan menemukan benda tak ternilai. Seniorku menemukan sebuah kotak besi berisi sebuah gelang emas dan perkamen. Gosip yang beredar di grup arkeolog, perkamen itu memberi petunjuk adanya manusia dari masa depan yang datang ke Majapahit. Tapi ada juga yang bilang perkamen itu sebenarnya surat cinta. Nah, mumpung seniorku itu ada di sini, aku mau tahu cerita yang sebenarnya.”
“Bisa nggak utangku dibayar dengan melakukan hal lain? Yang tidak berhubungan dengan kerjaan Mas Ito. Terus terang aku agak bosan dengan semua hal berbau Majapahit. Sudah hampir sebulan Mas Ito mempekerjakan aku secara paksa untuk baca literatur, apa masih perlu lagi mengajakku kemari?” tanya Enggar, sama sekali tidak berminat dengan apa yang disampaikan kakaknya. “Aku punya kesibukan lain, Mas,” lanjut Enggar mencari-cari alasan.
Ito menyentil hidung adiknya. “Ini libur semesteran. Kamu juga nggak punya pacar, memangnya mau sibuk apa? Daripada kesana kemari dengan teman-temanmu hanya menghasilkan gosip, mending bantuin aku. Nanti kalau skripsiku beres dan novelku diterbitkan, ada bonus untukmu.” Ito tersenyum optimis.
“Semangat betul untuk bikin novel lagi. Yakin kali ini bisa diselesaikan tulisannya? Yang kemaren menulis tentang alien itu apa kabarnya? Terus yang tentang mesin waktu?” sindir Enggar. Sudut bibir Ito terangkat sebelah, raut mukanya terlihat jengkel. “Makanya fokus saja dulu menyelesaikan skripsi, Mas. Menulis fiksinya nanti aja kalau sudah beres skripsinya. Deadline dari ayah tinggal satu semester lagi lho,” Enggar memperingatkan. 
“Berisik ah!” Ito menarik ujung hidung adik perempuannya lagi. “Kamu juga dikasih deadline ngenalin pacar, mana sampai sekarang belum ada. Cowok sebanyak itu di kampus apa nggak ada yang nyangkut salah satu?”
“Nggak,” jawab Enggar enteng. Sebenarnya sudah ada beberapa cowok yang menyatakan suka, tapi belum ada yang mampu menakhlukkan hatinya.
“Mau nggak kujodohin sama Mas Bara, seniorku yang nanti mau kita temui? Kayaknya dia masih jomblo juga. Keasyikan berkutat penelitian bidang arkeologi, sampai lupa nyari pacar.”
“Dijodohin sama Indiana Jones? Tidak, terima kasih deh. Cukup Mas Ito saja di keluarga kita yang antik,” tukas Enggar seenaknya.
“Manusia itu harus menghargai sejarah agar bisa memetik pelajaran tentang peradaban. Jaman boleh berlalu, tapi esensi kehidupan itu tetap sama dari waktu ke waktu. Sifat manusia pada dasarnya sama dari masa ke masa.” Ito sok bijak.
Enggar menghela napas panjang. “Hadeh, Mas, sudah cukup aku disuruh bantuin Mas terlibat dengan proyek sejarah ini, nggak perlu Mas tambahin dengan ceramah. Bisa vertigo aku nanti,” seloroh Enggar. “Sekarang bagaimana kalau kita berpencar saja. Kita ketemu nanti jam satu di kantin museum sama senior Mas Ito sekalian. Bagaimana? Sepakat?” tawar Enggar.
Ito berpikir sejenak. Ada baiknya juga dia konsentrasi cari bahan untuk menulis daripada mendengar adiknya menggerutu seperti dengungan lebah di dekatnya. “Oke. Tapi kamu jangan lupa dengan tugasmu untuk mendokumentasikan apa saja yang berkaitan dengan Majapahit. Jangan hanya mojok terus browsing atau update sosial media ya. Mumpung di museum ini, manfaatkan sumber pengetahuan ini dengan sebaik-baiknya. Oke?”  
“Ya, ya, ya, sudah sana.” Enggar mendorong kakaknya pergi. Setelah memastikan Ito tidak kelihatan, dia melakukan persis apa yang diperingatkan Ito tadi. Mojok, browsing internet dan update sosial media.
Serombongan turis asing melewati Enggar. Sang pemandu wisata bersemangat menceritakan sejarah dari benda-benda yang mereka lewati, sementara turis-turis asing itu manggut-manggut, hikmat mendengarkan. Sejenak Enggar tak enak hati. Orang luar negeri saja begitu antusias dengan kebudayaan Indonesia, dia yang asli lokal malah cuek saja.
Dengan enggan Enggar berdiri dari duduknya. Demi membayar pinjaman uang kakaknya untuk beli tiket pertunjukan musik K-Pop beberapa waktu lalu, dia harus memenuhi janjinya membantu proyek kakaknya. Dimulainya tugas itu dari Gedung Arca untuk mulai melihat dan mencatat benda-benda yang berkaitan dengan Majapahit.
Baru sekitar tiga puluh menit berada di lantai dua, ponsel Enggar berbunyi. Dari Ito. Di-reject-nya panggilan masuk itu, dia sedang sibuk mengambil gambar, tapi lagi-lagi Ito menelepon. “Halo, Mas, apa? Gempa apa, nggak ada. Nggak ada. Aku nggak ngerasain getaran apa-apa.” Enggar berjalan ke arah tangga menuju lantai ketiga. Lagi-lagi ponselnya berbunyi. Saat dijawabnya panggilan itu, terdengar Ito memintanya segera turun. Dengan kesal Enggar menuruni tangga untuk kembali ke Gedung Gajah tempat kakaknya beredar.
Baru saja dia dia mau keluar, langkahnya terganggu oleh gerakan yang mengguncang tubuhnya. Rasa pusing menyerang dan dunia seolah bergetar.
“Gempa! Gempa!”
Lalu terdengar teriakan bersahutan dilanjutkan dengan orang-orang yang berlari keluar dari gedung, berebutan. Hati Enggar mencelos, mulai diserang panik karena melihat benda-benda yang mulai berjatuhan. Dia harus pandai-pandai berlari menyelamatkan diri tanpa terluka.  
Buggg! Sesuatu menimpa kepalanya. Lalu semuanya gelap.

***
Samar-samar Enggar melihat batang-batang kayu berjajar. Lalu dia mendengar suara orang berbicara di balik batang-batang kayu itu. Mereka bicara dengan bahasa yang kedengarannya agak asing, tapi anehnya Enggar mengerti. Kalau tidak salah mereka berbahasa jawa, tapi bukan bahasa jawa yang biasa Enggar dengar.
Matanya masih agak susah dibuka. Denyutan keras dan berkali-kali di kepalanya membuat Enggar tidak sanggup bergerak dulu. Sekali lagi Enggar mengamati sekitarnya. Dimana dia sekarang? Sepertinya dia ada di sebuah kamar.
Kalau menurut ingatan terakhirnya dia berada di Museum Nasional, sedang lari keluar dari gedung untuk menyelamatkan diri dari gempa bumi, lalu sesuatu menimpa kepalanya. Jadi seumpama dia tersadar, seharusnya ada di rumah sakit atau di puskesmas, atau setidaknya mobil ambulance.
Tapi ini sepertinya di kamar di sebuah gubuk atau pondok.
“Puteri sudah sadar lagi.”
Tiba-tiba ada seraut wajah muncul di muka Enggar. Giginya banyak, berantakan dan berebutan ingin keluar. Sumpah Enggar kaget banget. Di film horor yang sering dia liat, ada banyak penampakan yang mengerikan, tapi yang satu ini benar-benar bikin copot jantung.
Enggar hendak membaca ayat kursi keras-keras, tapi tidak ada suara yang keluar karena ternyata mulutnya ditutup dengan kain. Makin paniklah dia. Apalagi tangan dan kakinya terikat. Gadis itu meronta-ronta kalap sementara manusia bergigi banyak itu mengulurkan tangan ke arahnya. Enggar menjerit sekuat tenaga dan seketika dunia menjadi gulita.

***

When it was so boring to have presentations and discussion all. day. long.




New Idea

Hi, Guys. How are you today?
I am currently joining a yoga class for beginner. And dear, oh, dear! All the movements in gymnastic class that I hate when I was still in school are coming back to destroy me. I am really inflexible. I still cannot touch my toes, kiss my knees, sit up and push up. My body hurts for three days after a class. Yet, I will not give up.
Nor I will not give up to write a new script. Actually I have finished a script and sent it to an editor. The review was dense and I needed to make some major changes. Many changes.
So, I haven't touched that script again. Sigh...
I need to calm down first, to get a fresh perspective. Or to get a new perspective by writing a new script (at this moment, it is still in the brainstorming phase). Or to have a new project :).
The last option is likely to be selected. It has something to do with my other hobby, which is drawing. I will draw pictures and share the with you :).
Hope you might enjoy them.
Soon.

Friday, June 10, 2016

It's a brand new day

Good afternoon, my dear friends.
The last time we met, I inform you about my 4th book. So, what do you think? I hope you like it.

I am now writing a new novel. Well, actually, I have written three scripts because my mind changes like the seasons. Somehow when I manage to get to certain pages, I got trouble to continue it and out of nowhere there's another idea to write about. So, the first two scripts, I just have to keep it first and I am working on the third script, which was a rather old script, but recently got my attention again. See, I mess up.

Anyway, writing in limited time is very challenging. My work day is office work. When at home, I am occupied by my family. So in between, I kind of "steal" some time to write. Most of my "brainstorming and ideas developments" happen in the way to work or way to go home. So when you see me sitting down, or standing up, or walking with my eyes seem wandering around, it means that I am developing some ideas of stories in my mind. If not, then I am calculating the budget to survive in this slow economy ha ha ha. It's true. And painful.

I schedule the script will be finished in two months. But, I am not sure.

Well, another topic (don't expect me to write something comprehensive in this blog). My Twinkle Little Star will start her school in July this year. Pretty exciting right? Yes, yes, indeed. My Little Miss Sunshine will also begin to join preschool, replacing her sister place in the daycare. So, when you are seeing mommies bringing her toddlers in the commuter line, one of them might be me.

Okay, since my boss is not around and I have finished my office work, I will steal some time again to continue writing. See you again...!