Thursday, April 20, 2017
Friday, March 31, 2017
Coming Soon... E-Book DIA and SEMPURNA
Dear Friends,
After waiting in a while (due to technical issue, aka mail was "lost in piles of documents in my hometown"), finally I signed the contract to publish DIA and SEMPURNA in E-Book version. I am so excited :).
Another news, I will be joining Indoreadgram on 23 April 2017, a voluntary program to donate my books - signed by myself, for you to read while commuting by train. You can also join the program and donate books you recommend. Kindly check Indoreadgram instagram account to get further detail on the information of the program (@indoreadgram.
Perhaps I will see you in the event ;).
After waiting in a while (due to technical issue, aka mail was "lost in piles of documents in my hometown"), finally I signed the contract to publish DIA and SEMPURNA in E-Book version. I am so excited :).
Another news, I will be joining Indoreadgram on 23 April 2017, a voluntary program to donate my books - signed by myself, for you to read while commuting by train. You can also join the program and donate books you recommend. Kindly check Indoreadgram instagram account to get further detail on the information of the program (@indoreadgram.
Perhaps I will see you in the event ;).
Wednesday, March 01, 2017
Gandrung #17
Pagi itu Singo Abang
keluar dari kamar setelah empat hari istirahat total. Agak terkejut dia saat
melihat latihan beladiri kali ini karena ada Enggar yang turut serta. Jandul yang
ada tak jauh dari lapangan memberinya salam hormat ketika melihatnya.
“Menurutmu dia akan
bisa mempelajari ilmu beladiri dengan cepat?” tanya Singo Abang pada Jandul.
Laki-laki berkepala pelontos itu mengangguk, segurat senyum menghiasi bibirnya.
“Kuharap juga begitu karena keadaan ke depan akan lebih serius. Jandul,
sementara kita di sini. Tunggu berita dari Haryo, baru kita lakukan langkah
selanjutnya. Aku sudah menyiapkan beberapa strategi yang akan kubahas bersamamu
nanti. Sekarang aku mau jalan-jalan sebentar,” kata Singo Abang sambil menepuk
pundak Jandul lalu melangkah pergi. Jandul menganggukkan kepala dan mengantar
kepergian Singo Abang dengan pandangan matanya.
Enggar melihat
kepergian Singo Abang dengan ekor matanya. Sekitar setengah jam kemudian
latihan selesai. Enggar membersihkan badan dulu baru pergi mencari Singo Abang.
Ada orang yang melihatnya pergi ke danau, jadi ke situ Enggar pergi.
Danau itu ramai oleh
burung belibis. Mereka berenang di tepi danau, berombongan. Beberapa terbang rendah
dan dengan manis mendarat di permukaan air. Di sisi lain dari danau, Enggar
melihat seseorang sedang berdiri dengan posisi kuda-kuda dan kedua tangannya
terentang. Perlahan tangan itu bergerak ke depan dan ke samping. Sesekali
berhenti, kemudian mulai lagi. Rupanya Singo Abang sedang melatih gerakan
tangannya yang terluka, sudah bisa dipergunakan seperti biasa atau tidak.
“Jangan dipaksa dulu
lah, Bang, masih sakit gitu. Nanti kalau sudah pulih baru dipakai berolah
kanuragan lagi,” ujar Enggar penuh perhatian. Singo Abang hanya berdeham saja
sebagai jawaban. “Katanya mau ngomong sama aku. Ngomong apa?” Enggar mencopot
ikat kepalanya agar rambutnya yang masih basah lebih cepat kering, mumpung di
danau hanya ada mereka berdua. Digerainya rambut hitam sebahu itu. Segarnya
kena angin di pinggir danau.
Tidak terdengar
keributan belibis, tidak terlihat pepohonan dan danau, tidak terasa embusan
angin. Yang diterima panca indera Singo Abang hanya keberadaan Enggar.
Muka Singo Abang
menghangat lagi. Sial.
Laki-laki itu pura-pura
memeriksa lukanya untuk mengembalikan fokusnya. Setelah bisa mengerem debaran
jantungnya, Singo Abang melihat ke arah Enggar. Tapi hanya sebentar saja karena
suara di dalam dadanya berulah lagi. Singo Abang memalingkan muka.
Enggar bepindah dari
tempatnya, lalu berdiri di depan Singo Abang, membuat laki-laki itu kaget. “Mau
ngomong apa?” tanya Enggar lagi. Wajahnya memerangkap Singo Abang lekat-lekat.
“Maaf aku lengah
menjagamu sampai kamu bisa dibawa pergi ke Mertabumi. Kamu sampai dilukai oleh
mereka, aku benar-benar menyesal. Ini salahku,” kata Singo Abang serius. Selain
serius meminta maaf, dia juga serius berkonsentrasi agar pikirannya tidak
terpecah oleh gejolak hatinya.
“Oh.” Enggar menjawab
pendek. Ada sedikit rasa kecewa, dipikirnya bukan itu yang mau dibicarakan
Singo Abang. “Bukan salahmu kok, Bang.”
“Aku juga ingin
mengucapkan terima kasih, kamu telah susah payah membawaku kemari dan merawatku
selama di perjalanan,” ujar Singo Abang.
“Kok pembicaraannya
jadi resmi begini. Santai saja, Bang.” Enggar cengengesan. Berharap Singo Abang
tersenyum. Tapi laki-laki itu hanya diam menatapnya. “Yang kulakukan itu nggak
sebanding dengan kebaikan Bang Singo padaku. Abang sudah berkali-kali
menyelamatku. Satu-satunya orang yang bisa kupercaya walaupun suka marah.
Selalu bisa diandalkan, meskipun seringnya menyebalkan.”
Enggar mencoba
mengurangi rasa grogi yang menyerangnya akibat tatapan mata Singo Abang.
“Kamu ini mau memuji
apa menghina?” Suara Singo Abang meninggi.
Enggar nyengir. “Bercanda,
bang,” kata Enggar sambil nonjok lengan kanan Singo Abang. Cowok itu langsung
menyeringai kesakitan. “Maaf, maaf, kena lukanya ya?” Enggar memencet luka itu,
antara sengaja dan tidak.
“Hei, kamu ini!” Singo
Abang mulai emosi karena Enggar menggoda dia.
“Ya, ya, maaf.” Mulut
bilang maaf, tapi tangan maju untuk menyentuh luka Singo Abang. Belum jari-jari
Enggar sampai, tangan kiri Singo Abang memelintirnya duluan.
Enggar segera memutar
badannya untuk melepaskan diri dari tangan Singo Abang. Salah satu gerakan bela
diri yang dipelajarinya di sini berhasil dipraktekkan.
“Kamu sudah berlatih.”
Singo Abang manggut-manggut.
“Iyalah.” Enggar
membanggakan diri. “Aku selalu kebagian babak belur di Majapahit ini, kalau aku
nggak serius belajar beladiri, bisa korban penganiayaan terus. Makanya
kuputuskan sejak kembali ke sini aku akan giat berlatih. Nanti sore aku mau
berlatih pedang sama Pak Jandul.”
“Aku bisa melatihmu.”
Singo Abang menawarkan diri.
“Nggak deh, makasih.
Aku susah belajar kalau gurunya galak, cerewet,...”
“Tidak mudah juga punya
murid lamban, refleksnya payah, suka menangis, sering pingsan, berisik,” balas
Singo Abang.
“Hoi hoi.” Enggar
berkacak pinggang tidak terima. “Aku yang begitu ramah, cantik, cerdas dan
tanggap begini diremehkan. Abang nggak tahu saja bagaimana aku bisa
menyelesaikan masalah tanpa masalah. Kalau Bang Singo melihat kepiawaianku
bersilat lidah dengan Cakrawaja, Tumenggung Sukmo dan orang bergelang naga
itu, pasti terkagum-kagum padaku.”
“Aku ingin membahas itu
denganmu. Kamu belum menceritakan apa yang terjadi di sana. Apa ada informasi
yang kamu dapatkan saat pertemuanmu dengan mereka? Suatu rencana mungkin.”
“Itu dia. Mereka terus
memaksaku untuk mengatakan pada siapa kuberitahu rencana mereka. Padahal
sebelumnya aku sama sekali tidak tahu rencana apa itu. Tapi karena kepiawaianku
bersandiwara, aku agak bisa menduga-duga kalau mereka akan melakukan sesuatu
terhadap Majapahit. Ketika kubilang Gajah Mada sudah kuberitahu tentang rencana
itu dan kuingatkan kalau semua pemberontakan hingga Hayam Wuruk berkuasa bisa
diberantas tuntas, mereka agak gentar.”
“Kamu menyebutkan nama
Hayam Wuruk? Kamu sudah lupa pesan Mpu Soma?”
“Kepepet, Bang. Yang
penting mereka nggak tahu aku dari masa depan, walaupun Cakrawaja sempat
menuduhku bukan Anggoro. Untung hanya dia yang curiga, lainnya mengira aku
kesurupan. Oh ya, aku jadi ingat. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih
sama Abang. Panah beracun waktu itu sebenarnya ditujukan padaku kan? Kalau Bang
Singo nggak melindungiku, aku pasti sudah mati.”
“Kamu adalah tanggung
jawabku, wajar aku melakukan itu. Tidak usah diungkit lagi. Sampai kamu bertemu
dengan Pangeran Palawa, baru aku bisa tenang.” Saat Singo Abang berkata itu,
raut wajahnya berubah.
Terlintas kejadian
waktu itu. Anak panah yang dilepaskan Cakrawaja meluncur kencang ke arah
Enggar. Tinggal sedetik saja sebelum Singo Abang melesat dan memeluk Enggar
untuk menghindarkan gadis itu dari bahaya. Satu detik setelah itu sengatan
panas menghentak di bawah pundaknya, rasa terbakar menyebar ke punggung. Singo
Abang merasakan tubuh Enggar menjadi berat dan mereka berdua terjatuh ke tanah.
Saat itulah Singo Abang panik, mengira panahnya tembus hingga ke Enggar.
Untung darah di tubuh
Enggar berasal adalah darahnya. Singo Abang pasti akan mengutuk dirinya seumur
hidup kalau sampai Enggar terluka. Enggar adalah tanggung jawab yang diberikan
padanya oleh Pangeran Palawa untuk dijaga. Dia tidak boleh mengecewakan
Pangeran Palawa.
Bohong. Bukan itu
alasannya.
“Menurut Bang Singo
mereka akan memberontak?” Pertanyaan Enggar membuyarkan lamunan Singo Abang.
“Ya, aku juga curiga
begitu. Tapi masih belum ada bukti-bukti kuat. Sementara yang bisa diusut
hanyalah tentang pembunuhan Sukmana. Kamu, maksudnya Anggoro, yang seharusnya
menjadi saksi kunci tentang pembunuhan maupun keterkaitannya dengan rencana itu
tidak bisa dimintai keterangan.”
Enggar menghela napas
berat, membenarkan kata-kata Singo Abang barusan. Kuncinya memang Anggoro,
sayangnya dia bukan Anggoro dan dia tak tahu apa-apa. “Kurasa Cakrawaja tahu
banyak, Bang. Kalau dia bisa ditangkap dan mau mengakui rencana mereka, mungkin
akan lebih mudah masalahnya selesai sebelum membesar.”
“Cakrawaja adalah anak
salah satu menteri yang punya kedudukan kuat. Meskipun dia sedang tidak rukun
dengan orangtuanya, tapi mereka juga tidak akan tinggal diam kalau Cakrawaja
ditangkap,” kata Singo Abang.
“Jadi dia bisa lolos
meskipun sudah menjahati orang-orang?” tanya Enggar. Singo Abang mengangguk.
“Nggak di jaman ini nggak di masa depan, sama aja ternyata,” gumam Enggar.
“Sepertinya meskipun jaman berganti berkali-kali, peradaban berubah-ubah,
inti-inti kejahatan tetap saja sama.”
“Keadaan di masa depan
sama saja dengan masa sekarang? Berarti kamu tidak perlu susah-susah cari cara
untuk pulang. Kamu bisa tinggal di sini seterusnya. Toh sama saja,” gumam Singo
Abang, cukup jelas terdengar di telinga Enggar.
“Tinggal di sini
seterusnya? Ogah! Aku tetap mau pulang.” Enggar melemparkan batu ke danau. Batu
itu membubarkan kelompok belibis yang asyik berenang, membuat mereka terbang
bersamaan.
“Kamu tidak ingin
bersamaku?” Pertanyaan itu tidak bisa ditahan oleh Singo Abang. Enggar terpaku, menatap Singo Abang yang
memandanginya. “Aku hanya bercanda, tidak perlu dijawab. Oh ya, Mpu Soma sudah
menemui kakak seperguruannya untuk mendiskusikan tentangmu. Tapi aku tidak tahu
sejauh mana pembicaraan mereka. Kamu bisa menanyakannya nanti.”
“Baiklah.” Enggar
berjalan menuju tepi danau. “Bang, aku mau nyebur ke danau, sudah lama nggak
berenang” kata Enggar. Dia melepas sandalnya dan terjun ke danau.
“Hati-hati airnya dingin,” ujar Singo Abang.
“Kenapa nggak dari tadi
bilangnya! seru Enggar, gemetaran menahan dingin.
Singo Abang menahan
senyum. “Gerakanmu lebih cepat daripada kata-kataku.” Laki-laki itu mengulurkan
tangan kirinya, hendak membantu Enggar naik. Gadis itu cemberut kesal, tapi
bergerak menuju Singo Abang. Namun belum sampai tepian, ada sesuatu yang
menahan kaki Enggar.
Tiba-tiba Enggar
tersentak dan tertarik masuk ke dalam air. Tangannya menggapai-gapai, meminta
pertolongan Singo Abang. “Bang!” teriaknya ketika sempat muncul kembali ke
permukaan, sebelum tenggelam lagi. Posisi Enggar sudah agak jauh dari tempatnya
semula.
Laki-laki itu langsung
terjun mengejar Enggar. Rasa menyengat dan nyeri tidak dipedulikan Singo Abang.
Dia menyelam mencari keberadaan Enggar. Tatapannya liar menuju ke segala arah.
Singo Abang naik ke atas untuk mengambil napas lalu masuk ke dalam air lagi.
Dia sangat kuatir dengan keselamatan Enggar karena sudah berada di dalam air
lebih dari kemampuan rata-rata orang bisa menahan napas.
Sesosok tubuh terkulai
di badan air di depan sana. Singo Abang mempercepat gerakannya. Direngkuhnya
tubuh Enggar dan ditarik ke atas. Sesuatu menyangkut di kakinya. Singo Abang
harus melepaskannya dulu. Enggar terangkat begitu kakinya bebas. Singo Abang
meraih tubuhnya dan membawanya ke atas.
Belibis-belibis terbang
dan sebagian berenang menjauh ketika kepala Singo Abang muncul di permukaan
diikuti kepala Enggar. Tangan kanan Singo Abang memeluk Enggar sementara tangan
kirinya mengayuh.
Singo Abang mengerang
kesakitan saat menarik tubuh Enggar keluar dari danau. Tapi dia tidak bisa
beristirahat sekarang. Enggar harus disadarkan. “Bisa tidak sekali-kali tidak
membuatku kuatir,” gerutu Singo Abang sambil memeriksa denyut nadi Enggar. Dia
lalu menekan-nekan perut Enggar untuk mengeluarkan air. “Ayo, bangun, Enggar!”
Singo Abang memukul tanah karena kepalanya mulai berdenyut-denyut hebat dan
pandangan matanya kabur. “Sialan. Awas kalau kamu tidak bangun juga.”
Singo Abang sedikit
mendongakkan kepala Enggar. Sebelum pingsan dia harus sudah bisa menyadarkan
Enggar. Dalam keadaan pandangan mata hampir gelap, Singo Abang memberikan napas
buatan.
Suara Enggar yang sedang terbatuk batuk-batuk dengan air yang keluar dari mulutnya adalah suara terindah yang
pernah didengar Singo Abang sebelum dia hilang kesadaran.
***
Thursday, February 09, 2017
Gandrung #16
Enggar stres. Biasanya
dia hanya menjadi pengikut saja dalam perjalanan, sekarang dia yang memimpin
perjalanan. Meskipun masih Singo Abang yang mengendalikan kuda, tapi Enggar
yang membuat keputusan kapan mereka istirahat atau melanjutkan perjalanan. Dia
juga harus merawat Singo Abang, menyiapkan makan, mengurus kuda dan lain
sebagainya. Bukannya dia keberatan, justru dia merasa kuatir kalau apa yang
dilakukannya kurang maksimal.
Singo Abang merasa
kasihan pada Enggar. Dia tahu Enggar lelah, walau gadis itu berusaha untuk
selalu tegar dan ceria. Setiap hari dia hanya tidur tidak lebih dari empat atau
lima jam. Dengan sabar dia mengurusi Singo Abang. Mengompresnya saat demam,
mengganti perban, membersihkan luka yang semakin tidak enak dilihat, bahkan
menyuapinya makan.
“Awas saja kalau Bang
Singo berani mati. Pokoknya Abang harus kuat. Kalau Abang meninggalkanku
sendirian di Majapahit, aku akan benci Abang seumur hidup,” ancam Enggar setiap
kali Singo Abang melemah. Lalu gadis itu memeluknya erat. “Jangan tinggalkan
aku ya, Bang.”
Pada hari ketiga mereka
sampai di Ketanggung. Enggar harus berlari ke pendopo dan memanggil bantuan
karena Singo Abang sudah keburu pingsan di atas kuda sebelum tiba di pintu
gerbang.
Untunglah Mpu Soma ada
di tempat. Dia meminta Pak Susatra untuk membawa Singo Abang ke pondok
pribadinya, sedangkan Enggar hanya bisa menunggu dengan gelisah di kamarnya.
Kantuk sudah sedari
tadi menyerangnya, tapi Enggar nggak bisa tidur sebelum tahu bagaimana keadaan
Singo Abang. Anak-anak yang bersekolah di sana mendatangi Enggar, menanyakan
keadaannya dan berusaha menghiburnya.
Selama dua hari Enggar
tidak diperbolehkan menengok Singo Abang, membuatnya makin penasaran dengan
keadaan laki-laki yang telah menyelamatkannya itu. Mpu Soma bilang Singo Abang
tidak boleh diganggu. Tapi bukan Enggar kalau tidak mencari cara. Entah
mengintip atau minta bocoran dari Pak Sukarsa mengenai perkembangan kesehatan
Singo Abang.
Malam ini, saat Enggar
sibuk melipat pakaian, ada orang mengetuk pintu pondoknya. Semoga ada yang
mengabarkan kalau dia boleh menengok Singo Abang.
“Puteri!” Tiga wajah
terpampang di depan Enggar. Jandul, Bogar dan Sanip rupanya sudah sampai ke
Ketanggung.
“Pak Bogar, Pak Jandul,
Kang Sanip!” Enggar menyalami mereka satu per satu. “Kapan datangnya? Sudah
tahu bagaimana keadaan Bang Singo? Aku belum dikasih ijin untuk menengok. Oh
ya, Bagaimana kabar kalian?”
“Kami buru-buru kemari begitu mendengar kabar
Putri menghilang. Sampai di sini malah diberitahu Ketua terluka. Tapi untunglah
Puteri selamat. Ketua orangnya kuat dan jagoan, pasti akan sembuh, Puteri
jangan kuatir,” kata Bogar.
“Permisi.” Pak Susatra
datang menghampiri mereka. “Maaf, Nakmas Barata ingin bertemu dengan Den Enggar
dan kalian. Silahkan, semuanya sudah ditunggu di pondok Mbah So.”
“Asyik!” Enggar
bersorak. “Ayo, Pak, buruan yuk!” Enggar lalu sibuk mendorong mereka keluar
dari pondoknya.
Mereka sampai di pondok
Mpu Soma, tempat Singo Abang dirawat. Enggar mau langsung menyerbu, tapi
ditahan oleh Pak Susatra karena diminta bergiliran masuknya. Urutannya adalah
Jandul, Bogar, Sanip, baru kemudian Enggar.
Satu persatu mereka
masuk dan keluar. Untung cuma sebentar-sebentar. Pada saat tiba gilirannya,
Enggar justru malah jadi ragu untuk masuk. Jantungnya deg deg an luar biasa dan
entah kenapa hatinya terasa tidak karuan. Dia sampai harus mengingatkan diri
sendiri untuk bisa menahan gejolak aneh yang merasukinya.
Setelah beberapa kali
mengambil napas panjang, Enggar masuk. Tapi ketika dia sudah tiba di tempat
Singo Abang berbaring, dilihatnya laki-laki itu sudah memejamkan mata. Apakah
dia tidur? Enggar pelan-pelan mendekatinya.
Napas Singo Abang naik
turun teratur, nampaknya memang tidur. Rupanya Enggar terlalu lama membuatnya
menunggu. Tapi tidak apa. Kesempatan itu digunakannya untuk memandang wajah
Singo Abang sampai puas. Tak sadar tangan gadis itu terulur, hendak menyentuh
luka di dada kanan Singo Abang.
“Barata. Minum obatnya
dulu.” Datanglah Mpu Soma dengan membawa cawan berisi cairan berwarna kehijauan
untuk diminum Singo Abang. Laki-laki itu membuka mata, agak kaget melihat
keberadaan Enggar. Mereka saling menatap, tapi hanya sekilas karena Enggar
terpaksa menyingkir, memberi tempat pada Mpu Soma untuk memberi obat. Enggar
duduk di kursi tak jauh dari balai-balai tempat Singo Abang berbaring miring.
Setelah obat habis
diminum, Mpu Soma memeriksa luka Singo Abang, sambil mengajaknya bicara cukup
lama. Mpu Soma keluar dari ruangan kira-kira lima belas menit kemudian, setelah
membaca bahasa tubuh Singo Abang yang sudah tidak sabar untuk berbicara dengan
Enggar.
“Aku tidak melihatmu
beberapa hari ini. Bagaimana keadaanmu?” tanya Singo Abang sambil mengalihkan
pandangan ke Enggar. “Hei. Enggar!” panggil Singo Abang. Enggar tidak menyahut,
rupanya ketiduran di kursi. Kepalanya tersandar di dinding dan kedua tangannya
terkulai di pangkuannya.
Singo Abang bangun dari
tempatnya berbaring. Pelan-pelan dia berjalan menuju lemari dan mengambil kain.
Diselimutkannya kain itu ke Enggar. Termangu Singo Abang di sampingnya. Menatap
wajah Enggar dengan penuh rasa rindu. Rasa hangat tiba-tiba menyebar di
wajahnya. Singo Abang mundur, menyadari keinginannya untuk mencium gadis itu
tidak boleh dilakukannya.
Singo Abang hendak
kembali ke balai-balai ketika tiba-tiba mendengar suara berdebum. Bukan benda,
tapi Enggar! Saking lelapnya, tubuhnya oleng ke samping, dan gaya gravitasi
langsung menariknya ke bumi.
Enggar geragapan dan
kontan berdiri. Ada dimana dia sekarang? Enggar menoleh ke kanan dan ke kiri.
Kaget dia setelah sadar bahwa dia meringkuk di tanah.
“Awas kalau ketawa!”
ancamnya ketika mendapati Singo Abang mematung di dekat balai-balai, menatapnya
lurus.
Enggar bergegas keluar
dari kamar itu sebelum mukanya terbakar karena malu. Sampai di luar Enggar
langsung berjongkok, mengacak-acak rambutnya. Duuuh, kenapa dia sampai
ketiduran? Sampai tumbang ke tanah segala, hancur sudah keanggunannya.
Eh, tadi dia melihat
kain tergeletak di tanah. Apa Singo Abang menyelimutinya?
Enggar bangun dan
kembali ke kamar Singo Abang. Laki-laki itu terbaring dengan mata terpejam,
seperti posisi ketika Enggar masuk pertama kali. Di kursi tempat dia ketiduran,
Enggar tidak melihat adanya selimut.
***
Wednesday, January 25, 2017
Gandrung #15
“Enggar! Enggar!”
Enggar merasakan
tepukan di pipinya. Dia membukanya matanya. Ada Singo Abang yang menopangnya
dengan posisi setengah memeluk. Lalu Enggar menggerakkan kepalanya untuk
melihat tubuhnya. Ada noda darah di dada dan tangannya. Enggar gemetaran,
napasnya tersengal. Hawa dingin menjalari tubuhnya.
“Kita harus pergi dari
sini secepatnya. Ayo, bangunlah,” kata Singo Abang sambil membantunya bangun.
Sebuah anak panah
melesat ke arah Singo Abang dan Enggar. Sebelum mengenai mereka, ada satu anak
panah lain yang menerjang dan membelokkan arahnya. Haryo menarik napas lega,
tembakannya tepat sasaran.
“Cepat pergi, biar aku
yang menghadapi Cakrawaja!” seru Haryo pada Singo Abang. Dia memerintahkan
beberapa orangnya untuk melindungi kedua orang itu.
Singo Abang bersiul,
memanggil kudanya. Dengan sedikit terhuyung-huyung Singo Abang mengangkat
Enggar ke atas punggung kuda. Lalu dia menyusul naik, duduk di belakang Enggar. Kudanya dipacu
cepat-cepat.
Enggar sudah
benar-benar sadar saat tangannya menyentuh bajunya di bagian kiri yang basah
oleh darah. Tidak ada lubang di bagian itu. Enggar memeriksa bagian tubuhnya
yang lain. Tidak ada luka baru. Kemudian dia melihat ada darah di bawah pundak
kanan Singo Abang. Mata Enggar terbelalak seketika, mengetahui ada anak panah
tertancap di belakang pundak cowok itu.
“Bang, kamu kena
panah!” serunya histeris.
“Iya, aku tahu. Untung
kita sudah jauh dari mereka, kurasa kita aman. Kita akan cari tempat untuk
istirahat dan mengobati luka-luka.” Keringat mengalir di wajah Singo Abang. Dia
menahan sakit.
Singo Abang
menghentikan lari kudanya ketika mereka tiba di tepi sungai. Ada tempat yang
tersembunyi untuk mereka bisa istirahat sejenak. Laki-laki itu masih sempat
membantu Enggar turun. Kemudian dia mengambil tas yang berisi kantong obat dan
pakaian ganti. Singo Abang duduk di dekat sebuah batu tinggi.
Lutut Enggar lemas,
perutnya mulas, kepalanya pening. Dia hanya bisa mengikuti Singo Abang tanpa
bisa berkata apa-apa. Pikirannya dipenuhi kecemasan terhadap keadaan Singo
Abang.
Laki-laki itu berusaha
melepas pakaian atasnya. Singo Abang meringis saat menyobek sisi kanan
pakaiannya. Ada sebuah anak panah mengenai pundak kanan Singo Abang, menembus
bagian depan badannya. Enggar bisa melihat ujung anak panah sedikit mencuat
dari kulit Singo Abang.
“Aku butuh bantuanmu,”
kata Singo Abang. Mukanya mulai pucat. Enggar mengangguk gugup. “Kamu harus
melakukannya sekali saja. Dengar baik-baik. Patahkan bagian pangkalnya, bagian
yang ada sayap-sayap itu. Lalu dorong anak panahnya sampai ujungnya benar-benar
keluar dari tubuhku., kemudian tarik ujungnya dari depan sini. Mengerti?” Singo
Abang mengatakan itu sambil menunjukkan bagian yang dimaksud dan caranya.
Enggar melelehkan air
mata. Seharusnya dia yang kena anak panah itu kalau Singo Abang tidak
membentenginya. Perasaan Enggar bercampur aduk menyadari kenekatan Singo Abang.
“Menangisnya jangan
sekarang. Nanti saja. Saat ini kamu lakukan saja yang kukatakan tadi. Cepatlah
sebelum aku kehabisan darah. Ingat, sekali saja.” Singo Abang mengambil napas.
“Patahkan pangkal anak panahnya. Kamu pasti bisa melakukannya. Ayo. Aku tidak
akan apa-apa,” desisnya.
Sambil terisak dan
mengatupkan bibir serta giginya rapat-rapat, Enggar mematahkan pangkal anak
panah. Tangannya gemetaran luar biasa.
Singo Abang meringis
dan menundukkan kepala. “Bagus. Bagus. Sekarang dorong batang anak panahnya ke
depan,” kata Singo Abang dengan suara bergetar. Enggar menggelengkan kepala.
Dia tidak sanggup. “Enggar, hanya kamu yang bisa menolongku saat ini. Kumohon.”
Tatapan mata Singo Abang semakin membuat perut Enggar sakit.
“Pada hitungan ketiga?”
tanya Enggar hampir tak terdengar suaranya.
“Apa aku harus
siap-siap berteriak, siapa tahu dalam hitungan kesatu kamu sudah mendorong anak
panahnya. Balas dendam atas kakimu,” kata Singo Abang, sedikit tersenyum.
Mendengar kata-kata
Singo Abang itu Enggar tertawa, meskipun air matanya makin deras mengalir.
Tangan Singo Abang
terulur untuk menghapus air mata Enggar. “Aku tidak mau pingsan sebelum anak
panah ini keluar dari tubuhku. Jangan menangis lagi. Tolonglah.”
Enggar mengambil napas
dalam-dalam lalu menghitung satu, dua, tiga, dan mendorong anak panah itu. Dia
bisa mendengar suara Singo Abang menahan sakit. Tangan laki-laki itu
mencengkeram batu sampai batu itu pecah.
“Bang, sakit ya, Bang?”
tanya Enggar. Tangannya mengelus-elus lengan Singo Abang, berharap sedikit
mengurangi rasa sakit yang dirasakan laki-laki itu.
“Sekarang bantu aku
menariknya dari depan,” kata Singo Abang sambil meletakkan tangannya ke
sebagian batang anak panah yang sudah tertembus.
Enggar merangkak ke
arah depan. Kakinya benar-benar lemas sampai tidak bisa berdiri. Singo Abang
yang menggeser tubuhnya menghadap Enggar. Mereka saling menatap untuk beberapa
lama. Ada perasaan yang tak terlukiskan di antara mereka.
“Pada hitungan ketiga,
cabut sekuat tenagamu.” Tangan Singo Abang terlurur, buru-buru meletakkan
tangan Enggar di batang anak panah itu sebelum dorongan hatinya untuk membelai
wajah gadis itu menguasainya. “Satu...dua...tiga!”
Dengan satu gerakan
cepat dan kuat, keduanya menarik anak panah itu. Singo Abang langsung oleng,
sedangkan Enggar yang memegang anak panah penuh darah itu muntah-muntah.
Dengan kekuatan yang
masih ada Singo Abang membasahi kain merahnya dan membersihkan lukanya. Dia
juga meminum pil dan membubuhkan obat di kedua lubang lukanya. Enggar segera
membantu setelah puas muntah.
“Bang, kenapa darahnya
menghitam begini?” tanya Enggar saat melihat darah yang masih keluar dari luka
Singo Abang.
Singo Abang memberi tanda
agar Enggar diam karena dia mendengar kedatangan seseorang. Tangan kiri Singo
Abang menggapai pedangnya, tapi keburu diambil alih Enggar. Meski kakinya masih
gemetaran, dia bangkit untuk menghadapi siapapun yang datang mendekati mereka.
“Jangan bergerak!”
teriak Enggar sambil mengacungkan pedang seperti mengacungkan pistol saat
seekor kuda dengan pengendaranya muncul dari balik pepohonan.
“Ini aku. Haryo.
Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja? Kamu tidak terluka?” Yang datang
ternyata Haryo. Dia turun dari kudanya dan mendekati Enggar. Enggar mundur
menjauhinya. “Bagaimana keadaan Barata?” Haryo mengalihkan pandangan. Singo
Abang melambaikan tangan kirinya. Haryo buru-buru memeriksa Singo Abang.
“Panahnya dibubuhi racun. Obat biasa tidak akan bisa menyembuhkan. Dia harus
segera dibawa ke tabib,” ujar Haryo sembari membalut luka Singo Abang dengan
kain bersih yang dibawanya. Dia juga membantu Singo Abang memakai pakaian
ganti.
Pedang di tangan Enggar
terjatuh. “Panah beracun? Terus bagaimana dong Bang Singo? Sudah pucat begini.
Bang, kita ke tabib mana? Masih kuat jalan nggak?”
“Bagaimana dengan
Cakrawaja dan orang-orang Tumenggung Sukmo?” tanya Singo Abang. Dalam keadaan
terluka begitu masih memikirkan Cakrawaja.
“Cakrawaja sudah bisa
kulumpuhkan. Jayengwangsa dan Jayengwira juga. Tapi Tumenggung Sukmo dan
petinggi Sadeng itu belum kami temukan,” kata Haryo. “Enggar, aku ingin bicara
padamu mengenai mereka nanti,” lanjutnya.
“Aku nggak ada urusan
dengan mereka. Yang paling penting sekarang adalah Bang Singo bisa diobati dan
sembuh sebelum racun itu menyebar. Ayo, kita pergi sekarang, kenapa masih
ngobrol saja. Dimana ada tabib di dekat sini?” Enggar membangunkan Singo Abang.
“Apa tidak ada kereta kuda biar Bang Singo bisa membaringkan badan. Kalau berkuda
kan tambah sakit badannya.”
“Enggar, aku
benar-benar harus bicara padamu tentang rencana...” ucap Haryo.
“Mas Haryo, aku masih
sebel sama Mas Haryo. Egois banget. Enak saja menculikku dan memanfaatkanku
untuk pekerjaan Mas Haryo tanpa koordinasi dan konsolidasi. Mas nggak tahu apa
bahaya apa yang harus kuhadapi? Memangnya nyawaku nggak ada artinya? Begini ya,
aku nggak peduli dengan rencana mereka, dengan kasus Anggoro, dengan apapun
yang berhubungan dengan itu. Aku capek terlibat dengan urusan orang lain. Aku
mau mengurus urusanku sendiri. Dan sekarang urusanku adalah keselamatan Bang
Singo.” Enggar serius sekali mengatakan itu pada Haryo, membuat Haryo tidak
bisa berkata apa-apa. “Sampai hatiku jadi baik kembali, jangan sekali-kali
menggangguku, oke?” tegasnya sambil memapah Singo Abang ke kudanya.
Haryo buru-buru
membantu. “Sebaiknya kalian ke Ketanggung. Mpu Soma pasti bisa menyembuhkan
Barata. Tapi kalian harus cepat-cepat karena racun itu mulai bekerja. Aku akan
menyuruh orang istana untuk mengawal kalian.”
“Nggak deh, terima
kasih. Aku nggak percaya sama orang-orang di luar anak buah Bang Singo. Kami
akan pergi sendiri.” Enggar yang sekarang duduk di depan, menggerakkan tali
kekang kuda. Kudanya diam saja.
“Begini gerakannya
kalau menjalankan kuda.” Haryo menunjukkan caranya. Enggar mendengus.
“Aku masih kuat sampai
Ketanggung.” Tangan Singo Abang mengambil alih kendali dari belakang. “Enggar,
berikan keris yang kamu bawa pada Haryo.” Enggar mengambil keris yang
terbungkus kain itu dan mengulurkannya pada Haryo. “Ini keris yang digunakan
untuk membunuh Sukmana. Gunakan baik-baik untuk menyelesaikan kasusnya. Haryo,
kuserahkan urusan di sini padamu. Kita akan bicara nanti.”
Haryo menganggukkan
kepala. Yang dimaksud “bicara” oleh Barata tentu bukan sekedar bicara. Selama
ini Haryo mengejar-ngejar Barata untuk urusan yang belum terselesaikan,
sekarang nampaknya Barata sudah menunjukkan tanda kalau dia akan membereskan
apapun masalah di antara mereka.
Haryo masih tetap di
tempatnya walau kedua orang itu telah menghilang di belokan. Diembuskannya
napas panjang-panjang, tangannya mengelus dadanya yang terasa sesak. Singo
Abang yang terkena panah, kenapa dia yang merasa terluka. Bagaimana bisa
kata-kata Enggar membuatnya merasa seperti itu?
“Aku belum pernah
peduli pada gadis-gadis. Begitu sekarang aku mempedulikan seseorang, aku
melakukannya dengan cara yang salah,” gumamnya. “Menurutmu bagaimana agar aku
bisa memperbaiki kesalahanku ini?” Haryo bertanya pada kudanya.
Kuda itu tidak
menjawab.
***
Tuesday, January 03, 2017
Gandrung #14
Enggar menguap lebar
dan langsung menutup mulutnya. Haryo sudah duduk di kursi di samping
balai-balai, menahan senyum sambil menatapnya.
“Selamat pagi,” sapa
Haryo. Suara kokok ayam nyaring di belakang rumah.
Enggar duduk, menyisir
rambut dengan tangan dan mengelap wajahnya dengan selimut. Dia melirik ke arah
meja. Meja itu hancur berantakan. Apa yang terjadi? Lalu ada dua orang masuk ke
ruangan itu untuk membereskan meja, menggantinya dengan yang baru.
“Orangnya sudah sadar,
Pangeran, kalau anda ingin bertemu dengannya,” kata salah seorang dari mereka.
Enggar menatap Haryo yang hanya mengangguk.
Haryo berdiri. “Kamu
mau ke belakang, cuci muka atau apa?” tanya dia pada Enggar. Gadis itu buru-buru
turun dari balai-balai dan mengikuti Haryo. Sebenarnya dia masih ingin mogok
bicara, tapi rasa penasaran membuat mulutnya gatal. Meja hancur dan kata-kata
anak buah Haryo barusan rasanya begitu mencurigakan. Apalagi dia juga melihat
sedikit bekas perkelahian di ruangannya.
“Apa yang terjadi
semalam?” tanya Enggar. Haryo tersenyum. Akhirnya mendengar suara gadis itu
lagi.
“Ada orang masuk ke
kamarmu. Kamu tidak mendengar apa-apa karena tertidur pulas,” katanya kalem.
“Aku pasti terbangun
kalau mendengar suara,” kata Enggar. “Kecuali kalau aku dibius. Ah!!” Enggar
berhenti jalan. Tangannya mengacung-acung ke arah ruangannya. Terbayang dia
tertidur plus tidak sadarkan diri dan ada orang yang ingin mengeliminasinya.
“Dia sudah diringkus. Sebentar
lagi aku kan bisa mengorek keterangan darinya, mau apa dia menyusup ke kamarmu,
meskipun aku sudah bisa menebak. Kamu tidak perlu kuatir, aku sudah memperketat
penjagaan. Kupastikan tidak ada lagi yang mengganggumu, jadi aku yang menjagamu
sampai kamu bangun tadi.”
Enggar megap-megap.
Antara dongkol karena dengan entengnya Haryo bilang dia nggak perlu kuatir
padahal sudah jelas nyawanya terancam, dan terharu karena Haryo menjaganya
semalaman. Oh, so sweet. Tapi dia
nggak boleh luluh. Haryo masih belum terbukti nggak berkhianat.
Enggar dibawa ke
belakang rumah. Di sana ada satu tempat yang didalamnya ada pancuran dan bak air
untuk keperluan MCK. Nampaknya masih baru beberapa hari dibangun.
Seseorang yang
bersembunyi tak jauh dari tempat MCK menatap heran. Puteri Anggoro seharusnya saat
ini ada di kediaman Mpu Soma atau di istana bersama Singo Abang, bukan di
Mertabumi bersama orang lain.
Enggar sudah kembali ke
kamar. Haryo tidak menemaninya lagi. Mumpung tidak ada orang, Enggar memeriksa
seisi ruangan. Mencari celah dan cara untuk bisa keluar, tapi tidak ketemu. Tadi
dia sudah mencoba meletakkan kursi di atas meja dan memanjatnya. Tangannya saja
yang baru bisa menyentuh galar di bagian atap. Berarti kurang tinggi untuk bisa
keluar lewat sana.
Gadis itu mendengar
kedatangan seseorang. Enggar segera duduk di atas balai-balai dan berlagak
nelangsa. Seorang laki-laki berbadan tegap membawa sepiring nasi, lauk pauk dan
satu kendi air baru.
“Selamat pagi, Puteri. Ini
sarapan untuk Tuan Puteri, silahkan menikmati.”
“Mau mencicipi?” tanya
Enggar pada lelaki itu. Dia masih agak-agak trauma dengan makanan yang diberi
obat tidur. “Aku sudah terlalu banyak tidur beberapa hari ini,” bisik Enggar.
Lelaki itu menatap
Enggar lurus. Enggar yang semula cuek, jadi agak waspada. “Kenapa melihatku
seperti itu?” tanya Enggar.
Laki-laki itu berjalan
ke arah pintu, memeriksa keadaan di luar, kemudian mengunci pintu. Sekarang
Enggar benar-benar waspada. Keris kecil yang disembunyikannya disiapkan bila
sewaktu-waktu diperlukan.
“Kau sudah mengatakan
apa saja pada Haryo?” tanya lelaki itu. Tangannya mengeluarkan sesuatu seperti
paku sepanjang jari telunjuk dari balik bajunya.
Enggar menggenggam
keris kecil erat-erat. “Kamu ternyata anak buahnya Cakrawaja? Kok...” Kata-kata
Enggar terputus karena paku besar di tangan si Taring Emas sudah ada di
lehernya. “Apa yang kamu maksud adalah rencana itu?” pancing Enggar. Walau jantungnya
sudah terasa meletus berkali-kali, dia memberanikan diri untuk mencari informasi.
Setidaknya dia dapat petunjuk sebenarnya dia terlibat perkara apa.
“Ya, rencana itu,” ujar
si Taring Emas gusar.
“Oh.” Hanya itu yang
Enggar bilang. Dia bingung mau bicara apa lagi.
“Aku tidak bisa
membahayakan masa depan Sadeng, jadi aku akan membunuhmu sekarang.” Si Taring
Emas sudah bersiap.
“Tunggu!” tahan Enggar,
sambil berpikir dimana dia pernah mendengar kata Sadeng. “Kamu bisa membunuhku
sekarang, tapi perlu kamu tahu ada mata-mata istana di antara kalian. Satu
lagi, rencana kalian sudah sampai di telinga Tuan Gajah Mada. Tahu apa itu
artinya? Tiada ampun buat kalian. Hm?” Enggar mengatakannya dengan penuh
percaya diri. Si Taring Emas ragu-ragu, terbukti paku di leher Enggar ditarik.
Tapi hanya sebentar, karena sekarang tangan kirinya mencekik Enggar.
Pintu digedor. Sesaat
Si Taring Emas lengah dan kesempatan itu digunakan Enggar untuk menendangnya,
menyambar selimut lalu menutupkannya ke kepala lelaki itu. Enggar melesat ke
pintu dan membukanya. Berharap itu Haryo.
Ternyata Cakrawaja.
“Mau kemana kau, Puteri?”
Cakrawaja menyeretnya ke balai-balai dan mulai mengikatnya. “Siung Loro, apa
yang kau lakukan dengan selimut itu?” bentak Cakrawaja pada Si Taring Emas yang
ternyata namanya Siung Loro. Siung Loro masih sibuk berusaha keluar dari
selimut. “Haryo sudah berhasil kukecoh. Dia sibuk dengan penyusup yang tidak
berguna itu. Kita bawa Anggoro segera.”
Enggar menendang dan
memukul Cakrawaja, membuat cowok itu naik darah. Enggar ditamparnya sangat
keras sampai jatuh ke tanah. Hampir saja Enggar pingsan karena pandangan matanya
tiba-tiba jadi gelap.
Cakrawaja mengikat
Enggar dan menggelandangnya keluar dengan kasar. Gadis itu lalu dimasukkan ke kereta kuda dan dibawa
pergi secepatnya.
Enggar merasakan
bibirnya perih dan sediki asin. Dia berdarah. Haryo tidak ada untuk
menolongnya, Singo Abang juga tidak tau ada dimana, sementara para kriminal
menguasainya sekarang. Dia hanya bisa minta bantuan pada Tuhan dan mengandalkan
diri sendiri. Untunglah keris kecil itu sempat dibawanya. Dia tidak akan
tumbang tanpa perlawanan, itu tekadnya.
***
Enggar diikat di sebuah
kursi. Dia tidak tahu berada di mana saat ini karena sepanjang perjalanan tadi
matanya ditutup, tapi rasanya jauh dari tempatnya semula ditahan. Tudung yang
menutupi kepala dan wajahnya mulai dibuka. Seorang laki-laki berkumis berdiri
di depannya. Seorang lagi, berbadan tinggi kurus, ada di samping Enggar,
memandangnya dari ujung kaki ke ujung kepala, nampak masih belum percaya.
Sementara itu Cakrawaja bersandar di dekat pintu.
Lelaki di depannya
berdehem sebelum mendekati Enggar. Mau diapain lagi nih? Menurut insting Enggar
lelaki inilah yang bos mafianya. Terlihat dari bahasa tubuh orang-orang ketika
berhadapan dengannya.
“Nyawamu banyak juga, Gadis
kecil. Padahal kata Sukmo kau sudah seperti sayuran.” Lelaki berkumis yang
memakai gelang berbentuk naga itu melirik ke orang yang ada di samping Enggar.
“Aku dengar dari Siung
Loro, kata Anggoro rencana itu sudah sampai ke telinga Gajah Mada, Adipati
Sadeng.” ujar Cakrawaja.
Lelaki bergelang naga itu
mendekatkan wajah ke Enggar. “Kau yakin?” tanya Adipati Sadeng pada Cakrawaja,
lalu mengalihkan pandangan ke Enggar lagi. “Kau memberitahu Gajah Mada? Jawab!”
“Tidak hanya Gajah
Mada. Aku memberi tahu banyak orang, jadi rencana rahasiamu sudah tidak rahasia
lagi. Maklum, aku susah tutup mulut,” jawab Enggar. “Anak buahmu juga.” Enggar
sembari melirik Tumenggung Sukmo.
“Maksudmu?” Tumenggung
Sukmo gusar. “Aku tidak akan berkhianat.”
“Menurut Tuan apa
tindakan Tumenggung Sukmo mencari Puteri Anggoro palsu, kemudian menghabisinya tidak
masuk dalam kategori ‘rencana dalam rencana’? Tumenggung Sukmo tidak mau Tuan
tahu kalau aku masih hidup. Dia cuci tangan ketika orang-orang istana akan
meringkus Tuan,” kata Enggar pada Si Gelang Naga. Nekat.
“Heh, Gadis gila!”
Tumenggung Sukmo mencengkeram lengan Enggar.
“Orang yang panik
biasanya orang yang bersalah.” Enggar menambahkan.
“Mulut dan otakmu tajam
juga untuk ukuran seorang gadis kecil yang hanya menyukai karya sastra. Kau
pikir semudah itu kau mengadu domba kami?” Si Gelang Naga tersenyum. Dia sudah
membaca strategi Enggar. “Kau tahu kan nyawamu ada hanya tinggal satu kedipan
mata untuk pergi?”
“Semua pemberontakan di
Majapahit bisa dipadamkan oleh Gajah Mada. Hingga Hayam Wuruk nanti memimpin
dan Majapahit menjadi jaya, menguasai tujuh daratan dan tujuh lautan, tidak ada
yang bisa dilakukan oleh orang-orang seperti kalian.” Enggar menggeleng-gelengkan
kepala dan membentuk bibirnya sedemikian rupa, mengasihani sekaligus menghina.
“Hayam Wuruk? Siapa
dia?” tanya Cakrawaja penasaran.
“Kurasa kalian tidak
akan pernah tahu, keburu ditumpas Gajah Mada.” Mantap Enggar mengatakannya.
Mantap juga dia tidak tau apa yang dibicarakannya, karena dia belum tahu pasti
apa sebenarnya “rencana” itu.
“Apa dia kesurupan?”
bisik Tumenggung Sukmo pada Cakrawaja.
“Dia tidak tahu apa
yang dibicarakannya, hanya menggertak.” Cakrawaja mencibir. “Dia belum sampai
istana, dia di Ketanggung saat kubawa kesini.”
“Ketanggung?” Si Gelang
Naga berkacak pinggang. “Tempat Mpu Soma?”
“Mpu Soma tinggal di
Ketanggung?” tanya Cakrawaja balik.
“Wah, Mpu Soma ya.” Tumenggung
Sukmo nampak was-was.
“Kau bertemu Mpu Soma?”
tanya Si Gelang Naga pada Enggar. Bahaya kalau Mpu Soma tahu. Meskipun dia
tidak lagi di istana, tapi pengaruhnya di sana masih sangat besar. Orang-orang
masih datang padanya untuk konsultasi.
“Kenapa memangnya kalau
aku bertemu?” tantang Enggar.
“Kurang ajar!”
Cakrawaja menyerbu dan mencekiknya. Enggar tidak menunjukkan wajah ketakutan
walaupun susah bernapas. Matanya menatap Cakrawaja dengan menyala-nyala.
Cakrawaja yang melihat kedua mata itu tercekat. Itu bukan mata Anggoro. “Dia
bukan Anggoro.”
“Apa?” Tumenggung Sukmo
“Dia bukan Anggoro,”
tandas Cakrawaja.
“Jadi betul dia
kesurupan?” tanya Tumenggung Sukmo.
“Dia bukan Anggoro, dia
orang lain. Wajahnya saja sama, tapi tidak sifatnya,” jelas Cakrawaja, setengah
takjub dengan kesamaan fisik yang dimiliki gadis di depannya dengan Puteri
Anggoro.
“Tidak mungkin.”
Tumenggung Sukmo memperhatikan Enggar baik-baik.
“Mungkin ada orang
berilmu tinggi yang bisa mengaburkan pandangan kita sehingga kita melihat gadis
ini adalah Anggoro, padahal bukan. Aku tahu Anggoro dan dia tidak berkata atau
berbuat seperti yang dilakukannya. Mungkin Mpu Soma yang merapalkan mantra atau
suatu ajian padanya untuk mengacaukan kita,” ucap Cakrawaja yang kembali
mengamatinya. Enggar mendengus prihatin. “Siapa nama ibumu?” tanya Cakrawaja
tiba-tiba pada Enggar. Nama ibunya Sulastri, tapi nama ibu Anggoro? Singo Abang
maupun Haryo tidak pernah cerita juga tentang Anggoro. “Siapa?” ulang
Cakrawaja.
Enggar menelan ludah.
“Anggorowati,” ujarnya pelan.
Cakrawala tertawa. “Dia
palsu. Nama ibunya adalah Anggraeni.”
“Hei, tahu apa kamu
tentang ibuku? Nama kecilnya Anggorowati. Anggraeni itu namanya setelah
menikahi ayahku,” sahut Enggar sebelum Cakrawaja makin bertingkah.
“Lalu siapa nama dayang
yang pergi bersamamu ke Mertabumi? Yang ini tidak mungkin dia punya nama lain
kan? Dia belum menikah,” kejar Cakrawaja.
“Apa, memangnya kamu
mau tahu semua nama keluargaku, dayang-dayangku, teman-temanku? Apa kamu tidak
punya pertanyaan yang lebih penting? Kalian sudah susah payah menculikku,
menyiksaku, bahkan mau membunuhku, hanya untuk bertanya soal itu? Kenapa kita
kembali ke topik semula. Tentang ‘rencana’ kalian, biar kita tidak buang-buang
waktu?”
Adipati Sadeng menahan
Cakrawaja yang mau menghajar Enggar lagi. Dia berpikir Enggar ada benarnya.
“Jadi Gajah Mada sudah tahu tentang rencana ini?” tanyanya. Enggar menegakkan
kepala dengan rada angkuh sebagai jawaban. Niatnya menakuti orang itu. “Kalau
begitu kau memang tidak boleh dibiarkan hidup. Lakukan apa yang harus kau
lakukan.” Dengan dinginnya Adipati Sadeng bicara seperti itu pada Cakrawaja. Setelah
itu dia keluar. Enggar meriang tak
karuan dan Cakrawaja menyeringai penuh kemenangan.
“Bagus, kita hanya
berdua sekarang.” Cakrawaja mengeluarkan keris dari rangkanya. Untuk beberapa
lama dia mengamati keris tanpa lekuk itu, seperti memastikan ketajamannya. ”Aku
belum mencuci keris ini sejak terlepas dari tangan Anggoro. Kemungkinan masih
ada sisa-sisa darah Sukmana.”
Itu kerisnya! Dasar
penggelap alat bukti! Enggar menahan diri. Keris kecil di tangannya sudah
membuka ikatan tangannya. Untung kakinya tidak diikat, jadi bisa lebih cepat
lolos.
Cakrawaja mendekat ke
Enggar. Saat dia mengayunkan keris, tangan Enggar tiba-tiba menangkis dan
kemudian kakinya menendang kuat-kuat dan tepat ke tempat yang paling
menyakitkan bagi Cakrawaja. Cakrawaja roboh.
Enggar menyambar keris
yang terjatuh di tanah, setelah terlebih dahulu melepas ikat kepala Cakrawaja.
Keris itu dibungkus agar sidik jari Cakrawaja tidak hilang dan sidik jari
Enggar nggak menempel di sana. Tidak tahu apa itu penting di jaman Majapahit,
tapi di masa depan sangat penting sebagai alat bukti.
Seperti seorang anggota
pasukan elit, Enggar menyelinap keluar. Penjagaan di tempat ini minimum.
Tumenggung Sukmo dan Adipati tampaknya juga sedang ada di ruangan yang lain.
Enggar mengendap ke
pohon di samping rumah dan berhasil melepaskan seekor kuda yang ditambatkan di
sana. Dia mencoba naik ke atas punggung kuda. Melorot lagi melorot lagi. Setelah
lima kali percobaan baru dia bisa. Digerak-gerakkannya
tali kekang, kudanya belum bergerak sama sekali. “Hoi, lari dong. Ck ck
ck..herr! Apaan sih perintahnya? Husyah!” Saking gemesnya Enggar menarik tali
kekang kanannya keras, sehingga kuda itu menggerakkan tubuhnya ke kanan. Sekali
lagi Enggar menarik ke kanan. Kuda yang semula menghadap ke depan sudah
menghadap ke belakang.
“Puteri kabur!” Ada
suara teriakan dari dalam rumah itu. Lalu muncullah seseorang yang memapah
Cakrawaja. Wajahnya merah padam seperti gunung meletus. Pasti tingkat
kemarahannya sudah menembus level berbahaya.
“Kuda, lari dong!”
Tidak sengaja kedua kaki Enggar menepuk perut kuda itu dan si kuda langsung
lari. Hampir saja Enggar terpental ke belakang. Sambil melecut tali kekang,
Enggar mengingat-ingat bagaimana Singo Abang biasanya mengendalikan kuda.
“Itu dia. Kejaar!” Di
belakang Enggar ternyata sudah ada tiga orang yang mengejar. Tumenggung Sukmo
keluar dari rumah dan menyumpah-nyumpah. Puteri itu punya ilmu kebal atau lapisan
anti lengket apa kok selalu bisa lolos.
“Hwaaaa, gimana nanti
berhentinya?” Enggar memacu kuda, tanpa tahu kemana arahnya. Orang-orang di
belakangnya semakin dekat. Beberapa anak panah melayang melewati Enggar.
Cakrawaja mengejar, ada di paling depan dengan busur dan anak panah. Sekarang
Enggar benar-benar panik. Jurus tangan kosongnya yang tidak seberapa tidak ada
gunanya saat seperti ini. Dia menundukkan badan, menempel pada punggung kuda
dan terus berdoa.
Tiba-tiba kuda
meringkik dan Enggar nungsep di tanah. Kudanya terkena panah. Enggar bangun
secepatnya dan berlari. Sedikit terpincang-pincang.
Seekor kuda coklat
mengejar Enggar yang mulai kelelahan. Ketika Enggar hendak berbelok untuk
mengecoh, tangan orang itu berhasil menyambar dan menaikannya ke atas kuda,
menempatkan Enggar di depannya.
“Lepasin!” teriak
Enggar.
“Sudah kuduga kamu bisa
ngabur.” Orang itu menggebrak kudanya.
“Bang Singo!” seru
Enggar sambil menoleh ke belakang. Rasa senang menjalari seluruh tubuhnya. Dia
masih gemetaran tapi rasanya bisa bernapas lega.
“Jangan senang dulu,
mereka masih mengejar kita,” kata Singo Abang.
“Cepetan, Bang,
dikebut!” Enggar melongokkan kepala melewati lengan Singo Abang dan melihat
kuda-kuda mengejar di belakang.
“Awas, kepalamu nanti
bisa kena panah lagi.” Tangan kiri Singo Abang menarik kepala Enggar. “Apa yang
terjadi, apa kamu sengaja ikut Haryo kesini?”
“Aku? Sengaja ke sini?
Memangnya aku kurang kerjaan apa ke tempat dimana semua orang memburuku? Aku
diculik dari pondok!” seru Enggar.
“Oh, begitu, siapa tahu
saja kamu sukarela ikut dengan Haryo.”
“Aku lebih suka ikut
dengan Abang, tau!”
Ada rasa sejuk di hati
Singo Abang saat Enggar mengatakan itu. Beberapa hari ini tanpa Enggar, dia
jantungan terus. Berkali-kali dadanya nyeri tanpa sebab. Kuatir tidak habis-habis,
sampai tidak doyan makan.
Dengan lihai Singo
Abang mengecoh orang-orang yang mengejarnya, sehingga mereka kehilangan jejak.
Singo Abang dan Enggar bersembunyi untuk memastikan mereka menuju arah yang
berbeda, baru kemudian keluar dan pergi ke arah berlawanan.
***
Enggar membasuh
wajahnya. Mulutnya perih lagi. Pipinya juga masih merah. Belum lagi kaki dan
tangannya yang lecet-lecet. Saat Enggar mencuci kakinya, tak sengaja dia
menoleh ke Singo Abang. Cowok itu sedang mengeluarkan sesuatu dari kantung yang
ada di sisi kudanya.
Tanpa berkata apa-apa
dia mendekati Enggar. Menariknya lembut ke arahnya dan mulai mengobati
luka-luka Enggar. Sesekali dia menghela nafas, merasa kasihan puteri jadi-jadian
yang babak belur itu.
“Aduh aduh aduh,
sakit!” Enggar memukul lengan Singo Abang saat memegang pergelangan kakinya.
Nampaknya kesleo saat jatuh dari kuda tadi.
“Tahan sebentar,” kata
Singo Abang.
“Eh...eh... Mau diapain?”
Enggar meringis.
“Aku akan mengembalikan
posisinya. Kalau tidak, akan bengkak dan kamu makin kesakitan,” ujar Singo
Abang.
“Tunggu, tunggu,
tunggu. Biar aku siap-siap mental dulu. Huuf...huuf...” Enggar melakukan
pernapasan ala orang mau melahirkan. “Hitung sampai tiga baru dibalikin, ya?”
Singo Abang meletakkan
tangannya di kaki kiri Enggar. “Satu...”
Klekk!
“Aaaaaaaaa! Kenapa baru
hitungan satu udah diplintir?!” protes Enggar.
Singo Abang digebukin
dari segala penjuru.
“Menunggu tiga terlalu
lama,” kata Singo Abang setelah Enggar capek memukulinya. Dengan penuh kedongkolan
Enggar menjauh dari Singo Abang. Eh, tapi dia udah bisa jalan lebih nyaman lho,
nggak sepincang tadi.
“Kita harus segera
pergi dari sini.” Singo Abang membereskan obat-obatan itu dan mengembalikannya
ke dalam kantong. “Aku sudah meminta Mijil menyiapkan tempat untuk kita
sementara. Ayo, kita pergi sekarang. Kamu mau tetap di sini? Sendirian? Baik.”
Singo Abang naik ke kuda karena Enggar tidak juga beranjak.
Mulut Enggar monyong.
Dia berjalan menuju arah kuda, tapi terlebih dahulu mengambil sesuatu yang
tergeletak di bawah pohon. Kerisnya Cakrawaja. Singo Abang mengulurkan tangan,
Enggar terpaksa menerimanya karena dia tidak akan bisa naik ke atas kuda tanpa
bantuan. Dia membonceng di belakang.
“Hitungan ketiga baru
kupacu kudanya ya?” canda Singo Abang.
“Awas saja kalau
berani. Aku bawa keris, jangan macam-macam. Ini.” Enggar menyerahkan keris itu.
“Ini yang digunakan untuk membunuh Sukmana. Cakrawaja tadi mau menggunakannya
padaku. Ini bisa jadi barang bukti untuk di pengadilan kan?”
“Iya. Simpanlah di
kantong di dekat kaki kananmu.” Singo Abang menarik tali kekang kuda. “Kita
harus cepat. Pegangan.”
Mereka menuju ke
perbatasan Mertabumi untuk bertemu dengan Mijil. Semalam Mijil sudah bertemu
dengan Singo Abang dan memberitahu semua hal yang terjadi. Tempat Enggar
terakhir disekap tadi Singo Abang tahu dari salah satu anak buah Cakrawaja yang
berhasil dilumpuhkan, Siung Loro.
Hampir satu jam baru
mereka tiba di sebuah rumah di kaki bukit.
“Kenapa kita berhenti
di sini? Rumahnya di sebelah sana,” kata Enggar sambil menunjuk ke arah rumah
yang masih sekitar lima puluh meter di depan.
“Apapun yang terjadi, jangan
jauh-jauh dariku.” Suara Singo Abang berubah nadanya. Kewaspadaannya membuat
Enggar kuatir. Dari tempat mereka berada, terlihat orang-orang bersenjata
keluar bersama seseorang. Mijil.
Di belakang mereka ada
seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Cakrawaja. Disusul oleh
Jayengwangsa dan Jayengwira. Singo Abang dan Enggar berjalan mendekati mereka
setelah turun dari kuda.
“Barata. Kita bertemu
lagi.” Cakrawaja maju ke depan, salah satu kakinya menginjak punggung Mijil.
“Kuakui kalian punya nyali besar datang ke sini. Tempat ini dipenuhi
orang-orangku. Kalian sudah terkepung, jadi sebaiknya menyerah saja. Berikan
dia padaku dan aku akan mengampuni nyawamu.”
“Bagaimana kalau
sebaliknya. Kamu pergi dari sini baik-baik dan aku akan mengampuni nyawamu,”
sahut Singo Abang kalem.
Cakrawaja tertawa
mengejek. “Serang mereka!” serunya. Anak buahnya yang bersiaga serentak
menyerbu.
Teriakan orang dipadu dengan
denting senjata memenuhi telinga Enggar. Singo Abang bergerak kesana kemari
menangkis serangan dan melindungi Enggar. Hampir tidak masuk di akal Enggar
kalau mereka akan bisa bertahan, apalagi keluar dari pertempuran.
Tiba-tiba terdengar
seruan ketika Singo Abang, Enggar dan Mijil terdesak. Suara itu datang berasal
dari serombongan orang berkuda dengan seorang laki-laki tampan berkuda putih
memimpin di depan. Haryo.
“Kenapa lama sekali
baru datang?” seru Singo Abang pada Haryo. “Kalau tidak sedang repot begini,
aku akan menghajarmu karena mencuri Enggar dariku?”
“Bisa itu kita
bicarakan nanti, tidak lihat aku sedang sibuk?” Haryo tidak menggunakan panah
kali ini, dia memilih menggunakan pedang.
Pertarungan mulai tidak
seimbang setelah Haryo dan pasukannya datang. Cakrawaja dan dua orang
kepercayaannya mengeluarkan busur, menghujani arena dengan anak panah. Haryo
tidak mau tinggal diam, dia juga mengeluarkan busur dan mulai membidik.
Enggar berkali-kali
memejamkan mata melihat adegan aksi berdarah. Perutnya mulai mual. Ini terlalu
mengerikan untuknya.
“Awas!” Singo Abang
menarik Enggar yang hampir ditusuk tombak. “Sudah kubilang berkali-kali, jangan
merem. Serangan datang dari mana-mana. Tetap siaga!”
Cakrawaja membubuhkan
sesuatu pada ujung anak panahnya. Cairan berwarna hijau dari botol kecil yang
dibawanya. Dibidikkannya anak itu dengan seluruh kemampuan, menyasarkannya pada
Enggar.
Singo Abang
membelakangi Enggar untuk menyingkirkan dua orang berpedang panjang. Adu pedang
mereka menciptakan bunyi yang membuat telinga Enggar semakin sakit dan hatinya
miris.
Sebuah anak panah
melesat. Ada suara di kepala Enggar yang menyuruhnya membalikan badan. Ketika
Enggar berbalik, dia melihat anak panah itu ke arahnya.
Jleb!!!
***
Subscribe to:
Posts (Atom)
