Monday, July 03, 2017

Gandrung #19

Kabut sudah mulai turun. Tipis mengambang. Matahari mengintip dari balik punggung gunung. Kehangatannya hanya mampu sedikit menembus sejuknya titik-titik air di udara. Sebentar lagi sore berakhir.
Singo Abang gelisah di gerbang kediaman Mpu Soma. Ini hari ketiga semenjak Enggar dan Mpu Soma pergi. Seharusnya dia menahan Enggar agar tidak pergi. Kalau gadis itu benar-benar kembali ke jamannya, dia tidak akan bertemu lagi. Perpisahan mereka beberapa hari lalu sangat tidak mengenakkan karena keduanya saling diam, jadi Singo Abang akan sangat menyesal kalau Enggar benar-benar pergi.
Laki-laki itu mengguncang-guncang pohon di sebelahnya dengan gemas. Beberapa daun dan ranting kecil menimpanya. Seekor monyet melompat turun dari pohon karena terganggu oleh guncangan itu. Rupanya Jambul Abang.
Singo Abang melirik Jambul Abang. “Dia sudah pergi, jadi tidak ada yang bisa kamu kejar lagi, Mbul. Si cerewet itu sudah balik ke alamnya,” kata Singo Abang. “Kamu tidak kangen mengganggu Enggar lagi, Mbul?” 
Laki-laki itu pun duduk di bawah pohon ditemani Jambul Abang. Mereka berdua sesekali saling melihat.
“Kamu pernah mengalami hal aneh seperti ini, Mbul? Membiarkan, tapi sebenarnya tidak rela. Mendukungnya pergi, tapi sangat mengharap dia kembali. Tidak tahan dia ada di sekitarmu, tapi tidak sanggup juga kalau dia tidak ada. Tahu apa itu artinya? Itu artinya kamu sudah gila,” simpul Singo Abang. “Dan aku sudah gila bicara pada monyet.”
Matahari sudah bersembunyi. Hanya bias cahayanya saja yang masih mewarnai langit. Singo Abang mendengar suara derap kuda. Semakin mendekat semakin kuat debar jantungnya. Ketika dia berdiri, dari belokan muncul Mpu Soma. Sendirian. Rasa kecewa menguasainya. Jadi Enggar benar-benar pergi.
“Kamu menungguku, Barata?” Mpu Soma turun dari kuda. Singo Abang belum beranjak dari tempatnya berdiri. Dia melihat ke arah belakang Mpu Soma, berharap menemukan Enggar.
“Ap...apa Enggar sudah kembali ke masanya?” tanya Singo Abang. Mpu Soma tidak menjawab. Hanya menepuk pundak Singo Abang beberapa kali kemudian menuntun kudanya memasuki halaman.
Singo Abang masih mematung beberapa waktu, seperti menunggu. Dia menggelengkan kepala dan menghela napas panjang. “Dia sudah pergi, Mbul,” katanya pada Jambul Abang. Dengan langkah lesu laki-laki itu berjalan meninggalkan gerbang dan Si Jambul. Rasanya seperti kehilangan Shiao Lan untuk kedua kali.
Kalau yang dulu dia memang tidak dapat kesempatan mengutarakan isi hatinya pada Shiao Lan. Singo Abang tengah dikirim ke kerajaan tetangga untuk membantu Pangeran Palawa, dan saat kembali ke istana dia mendapat kabar kapal yang membawa Shiao Lan dan keluarganya karam dihajar badai. Tidak ada yang selamat. Kalau sekarang dia punya kesempatan bicara tapi dirusak sendiri olehnya dengan menciptakan suasana tidak nyaman di hari terakhir Enggar akan pergi, karena cemburu pada Haryo.
“Jandul, apa kau baik-baik saja?” tanya Singo Abang yang bertemu Jandul di klinik bersama Pak Susatra. Jandul kena sedikit luka bakar.
Jandul mengangguk tanda dia baik-baik saja. Laki-laki itu menanyakan hal yang sama pada Singo Abang yang dijawab dengan anggukkan kepala juga. Tapi saat Jandul memberi isyarat mengenai Enggar, Singo Abang menggeleng.     
Saat itu terdengar Jambul Abang ribut di depan sana. Semula tidak diperhatikan oleh mereka, Monyet itu memang suka berisik, tapi lama-lama tingkahnya menjadi. 
Singo Abang membalikkan badan. Dilihatnya monyet itu mondar-mandir dan berteriak tidak keruan, lalu lari keluar komplek. Kalau kebiasaannya tidak berubah, dia pasti sedang mengejar seseorang. Dan selama ini hanya satu orang saja yang dikejarnya.
Berharap dugaannya benar, secepat kilat Singo Abang melesat mengikuti Si Jambul. Ada suara gemuruh di telinganya yang berasal dari detak jantungnya.
“Aaaaahh!! Pergi! Pergi! Pergiiiiiiiiiiiii...!” Seorang berteriak sambil menggerak-gerakkan tongkat kayu, mengusir monyet yang hendak menyerangnya.
“Enggar!” seru Singo Abang. Saat dia sudah berada di hadapan Enggar, serta merta dipeluknya gadis itu erat-erat. Perasaan campur aduk meluap-luap, memenuhi seluruh aliran darah lelaki itu. Seolah memastikan dia tidak bermimpi, Singo Abang tak ingin melepaskan dekapannya dari Enggar.
“Kupikir aku tidak akan bertemu kamu lagi,” bisik Singo Abang lega.
Ketakutan Enggar terhadap Jambul Abang lumer seketika. Yang ada hanya rasa aman, hangat dan bahagia.  
Tatapan mata mereka bertemu. Sekilas Enggar teringat peristiwa di danau bersama Singo Abang waktu itu. Raut mukanya seketika memerah. Begitu juga dengan Singo Abang yang tiba-tiba dilanda demam. Pelukan mereka terlepas, keduanya merasa canggung dan salah tingkah.
 “Aku senang bisa bertemu Bang Singo lagi, tapi aku jadi tidak bisa pulang, Bang.” Suara Enggar serak hampir menangis.
Singo Abang mengulurkan tangan, menghapus air mata gadis itu dengan lembut sambil berusaha keras untuk tidak menaikkan sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman. “Kita akan cari jalan lagi, jangan menyerah. Sekarang kamu istirahat dulu di pondok,” kata Singo Abang. Enggar mengangguk. “Kalau perlu apa-apa, panggil saja aku. Jangan terlalu bersedih. Pasti ada jalan untuk kamu pulang,” hiburnya.
Enggar tidak berkomentar. Mereka berjalan beriringan tanpa berkata apa-apa lagi. Tapi itu sama sekali tidak dipedulikan Singo Abang. Hatinya terlalu bahagia dengan keberadaan Enggar di sisinya.
Enggar langsung masuk ke pondoknya dan menutup pintu. Singo Abang mengangguk-anggukkan kepala. Senyumnya nggak ditutup-tutupi lagi.

***

Wednesday, June 21, 2017

Gandrung #18

“Kamu kecebur saat mancing ikan?” tanya Mpu Soma sekali lagi pada Singo Abang. Singo Abang mengangguk. “Kamu cukup pintar untuk tahu lukamu ini harus dijaga tetap kering selama beberapa hari.”
Singo Abang dan Enggar saling lirik. “Aku ingin makan ikan bakar,” kata Singo Abang menambah-nambah alasan.
“Kalau hanya ikan bakar, Ketua kan bisa minta ke dapur. Tidak perlu nyebur danau,” kata Bogar. Dia orang pertama yang menemukan mereka berdua di tepi danau. Yang satu pingsan, yang satunya heboh menyadarkan, tapi tidak bisa-bisa. “Nanti malam saya masakkan ikan bakar, Ketua,” lanjut Bogar. Singo Abang mengangguk saja.
“Aku sudah membersihkan lukamu agar kuman-kuman tidak masuk. Jaga agar tetap kering.” Mpu Soma menyelesaikan bebatan luka Singo Abang. “Enggar, kita akan menemui kakak seperguruanku pekan depan terkait keinginanmu untuk pulang. Sementara menunggu, kamu bantu aku merawat Barata. Besok aku harus ke gunung selama dua atau tiga hari.”
“Baik, Mpu,” jawab Enggar.
“Pastikan Barata tidak melakukan hal-hal yang seperti dilakukannya hari ini kalau mau cepat sembuh.” Mpu Soma tersenyum geli. “Sebaliknya pesanku juga sama untukmu, Barata. Pastikan Enggar tidak membuatmu mancing ikan lagi. Hm?”
Mpu Soma dan Bogar keluar dari pondok Singo Abang. “Kamu bisa pergi beristirahat sekarang,” kata Singo Abang.
“Bang, tadi itu sepertinya ada orang yang mau menenggelamkanku,” kata Enggar. “Apa tempat ini sudah tidak aman lagi?”
“Jandul sudah memeriksa sekitar danau dan tidak menemukan tanda mencurigakan. Mungkin ada hewan yang mengiramu makanan. Atau mungkin kakimu tersangkut tanaman.” Singo Abang tidak terlihat yakin.
“Ah, jangan menakutiku, Bang. Di danau itu serius ada monsternya?” tanya Enggar dijawab gelengan kepala oleh Singo Abang. “Tapi tahu tidak, Bang. Saat sadar tadi aku sempat berharap sudah kembali ke masa depan, tapi ternyata lagi-lagi gagal. Aku jadi tidak yakin kalau akan bisa pulang.” Enggar menyandarkan kepala di dinding.
“Minggu depan mungkin kamu akan tahu. Sudah, jangan sedih begitu.”
“Masih ada satu harapan.” Enggar memaksakan diri untuk tersenyum. “Eh, Bang, aku belum sempat bertanya. Setelah Abang mengeluarkanku dari danau, Bang Singo langsung pingsan gitu ya?”
Singo Abang mengangguk. Apa yang dilakukannya untuk menyadarkan Enggar tadi akan disimpannya sendiri. Toh dia tidak begitu yakin apa benar terjadi. Sudah setengah gelap.
“Mulai sekarang sepertinya aku memang harus lebih berhati-hati. Kalau selalu mengandalkan Bang Singo, nanti bisa jadi kebiasaan buruk. Baiklah, aku mau istirahat sebentar, terus nanti mau latihan pedang. Aku pergi dulu ya.” Enggar berjalan keluar.
“Jauhi masalah untuk sementara. Aku masih belum sehat,” pesan Singo Abang.
Enggar menutup pintu sementara Singo Abang merebahkan diri ke balai-balai. “Bang, aku masih penasaran. Waktu Pak Bogar menemukanku, katanya aku sudah sadar, sedangkan Bang Singo pingsan. Padahal terakhir kuingat adalah aku di dalam air. Betul aku sadar sendiri?” tanya Enggar yang melongokkan kepala.
“Tutup pintunya, aku mau tidur.” Singo Abang langsung merem, tidak menjawab pertanyaan sama sekali. Dadanya bergemuruh dilanda gempa.
***

Sanip membentuk mulut guci dari tanah liat dengan hati-hati. Tangannya yang basah, belepotan air dan tanah itu, memberikan sentuhan akhir, sementara kakinya terus memutar alas pembuat tembikar. Dia ada di bengkel, sedang menunjukkan kemampuannya membuat tembikar pada beberapa orang di situ. Desanya dulu adalah salah satu desa penghasil tembikar yang terkenal.
“Kang Sanip, nggak bikin celengan?” tanya Enggar. Selama ini yang dia lihat gerabah atau tembikar yang ada berbentuk guci, tempayan, kendi dan sebagainya yang sebagian besar untuk keperluan yang berhubungan dengan air atau peralatan dapur.
“Apa itu celengan?” tanya Sanip.
“Celengan, tempat untuk menyimpan uang. Memangnya kalian menyimpan uang di mana?” tanya Enggar.
“Kantong atau batang bambu,” jawab salah seorang.
“Jadi nggak ada celengan semar, ayam, kodok, babi.”
“Saya tidak mengerti maksud Den Enggar,” kata Sanip.
Enggar memberi penjelasan singkat tentang celengan. Suatu tempat yang dibuat tertutup tapi berongga, hanya ada satu lubang cukup untuk memasukkan keping uang. Dinamakan celengan karena berbentuk celeng atau babi hutan.
Mereka masih bingung. Jadi terpaksa Enggar memberi contoh penampakannya. Dia meminta tanah liat dan mulai dibentuknya menjadi celengan. Di kepalanya sih menciptakan celengan babi, tapi hasilnya jauh dari itu.
“Ini apa?” tanya Sanip.
“Babi,” jawab Enggar. “Dikasih lubang di sini, atau di sini untuk memasukkan uangnya. Nih.” Enggar memipihkan sejumput tanah liat hingga berbentuk keping, lalu memasukkan ke lubang celengan.
“Babi bentuknya tidak seperti ini, Den. Ini sih cecurut.” Sanip tidak bermaksud menghina, tapi telak mengena. Enggar meringis. Emang bentuknya lebih mirip cecurut, yang gagal dikloning. “Kalau babi atau celeng itu seperti ini.” Sanip pun beraksi. Tangannya lincah dan cekatan bekerja membuat celengan.
Enggar bertepuk tangan ketika celengan itu sudah jadi. Itu adalah celengan babi tergemuk dan paling menggemaskan yang pernah dilihatnya. Perutnya hampir menyentuh tanah. Mukanya bulat, matanya seperti tersenyum, pipinya tembem, kakinya kecil dan pantatnya seksi. Ukurannya pun lumayan besar, jadi siapapun yang bisa mengisi celengan ini sampai penuh, pasti kaya raya.
“Bagus sekali, Sanip.”
Sanip terkekeh malu. “Belum pernah terpikir sebelumnya untuk membuat celengan dari tanah liat. Dengan bambu tidak bisa dibentuk macam-macam, tapi dengan tanah liat, kita bisa bikin yang kita mau. Ya. Ini pasti laku keras kalau dijual.”
Mereka terlihat gembira dengan gagasan mengenai celengan. Enggar ikut senang melihat mereka bersemangat begitu.
“Permisi, Den Enggar. Ada yang mencari Den Enggar.” Markun datang menghampiri Enggar. “Pangeran Haryo. Beliau menunggu di pondok Den Barata.”
“Mas Haryo?” Enggar sampai lupa pamitan pada Sanip dan teman-temannya karena buru-buru pergi. Haryo ke sini, apa permasalahan di Mertabumi sudah beres?
Kedua laki-laki itu sedang berbincang ketika Enggar tiba. Haryo menyambutnya dengan senyuman hangat. Dia mempersilahkan Enggar duduk, menanyakan bagaimana kabarnya dan meminta maaf atas kejadian selama di Mertabumi.        
“Apa hatimu sudah baik untuk bisa memaafkanku?” tanya Haryo.
“Apa yang terjadi dengan mereka? Cakrawaja dan anak buahnya? Tumenggung Sukmo dan orang bergelang naga itu?” tanya Enggar. Dia tidak begitu kepikiran lagi tentang rasa sebelnya pada Haryo.
“Mereka sudah ditangkap. Tapi kasus yang bisa diangkat baru tentang pembunuhan Sukmana dan upaya pembunuhan terhadapmu. Kami belum mendapatkan bukti-bukti kuat tentang adanya rencana lain. Orang-orang yang mengetahui tentang itu hanya orang-orang tertentu dan mereka mengunci rapat-rapat. Tanpa saksi dan bukti kami tidak bisa begitu saja memperkarakan mereka. Tapi aku tidak akan berhenti sampai di sini. Penyelidikan terus berlanjut,” ujar Haryo. “Sebenarnya Putri Anggoro bisa menjadi saksi, tapi kamu tahu sendiri keadaannya.”
Enggar nyengir. “Jadi siapa yang membunuh Sukmana?”
“Cakrawaja. Dia sebenarnya sudah pergi dari Mertabumi hari itu juga. Mengira segala sesuatu sudah beres, sampai muncul berita kamu diculik oleh Kepala Merah.”
“Apa Sukmana tahu tentang rencana mereka sebagaimana Putri Anggoro?”
“Aku yakin begitu. Tapi Cakrawaja membuat pengakuan dia melakukan itu karena Sukmana membuatnya kesal,” jawab Haryo yang tidak lepas memandang Enggar. “Cakrawaja bisa menyakiti orang hanya karena orang itu tersenyum padanya. Orangnya memang seperti itu.”
“Terus kelanjutannya bagaimana, Mas?”
“Untuk itulah aku datang kesini menemuimu. Kamu mungkin akan dipanggil ke istana untuk dimintai keterangan. Aku masih belum bisa menemukan jalan keluar mengenai dirimu. Orang istana tahunya kamu adalah Putri Anggoro, padahal kamu bukan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau mereka tahu sebenarnya, bahwa kamu dari masa depan. Sampai sekarang pun aku masih belum sepenuhnya percaya.”    
“Aku ke istana? Waduh, nggak deh, terima kasih. Aku ada agenda yang jauh lebih penting. Pulang ke rumah.” Enggar tersenyum.
“Hm. Mpu Soma sudah menemukan caranya?”
“Beliau harus menemukan cara, aku sudah kehabisan ide,” keluh Enggar.
“Jujur aku berharap kamu tetap ada di sini, agar aku bisa melihatmu setiap hari,” ucap Haryo merayu.
 “Haryo, kamu kesini bukannya mau menyelesaikan urusan denganku juga?” sela Singo Abang sebelum Haryo semakin mencari kesempatan menarik hati Enggar. Haryo menoleh ke Singo Abang.
“Kamu masih terluka begitu apa mau bertanding, Barata? Itu tidak adil untukmu.”
“Kalau mau aku cepat sembuh, kalian jangan mengganggu istirahatku. Sana, keluar sana, aku mau tidur,” tukas Singo Abang. 
“Kok jadi galak begitu sih, Bang? Tunggu, memang selalu galak ding. Yuk, Mas Haryo, kita keluar saja,” ajak Enggar. Dia keluar duluan dari pondok, diikuti Haryo. Singo Abang kesal bukan main.
Di luar, Haryo mengikuti Enggar ke arah bengkel di belakang. Semula mereka berjalan berdampingan, tapi Haryo kemudian mendahului Enggar dan memintanya untuk berhenti dulu.
“Enggar, aku masih merasa tidak enak padamu tentang penculikan waktu itu. Aku hanya berpikir semakin cepat kuselesaikan kasusnya, kamu akan semakin cepat terbebas. Aku tidak tega kamu jadi buronan terus. Tapi aku kurang memperhitungkan keselamatanmu. Kupikir aku bisa selalu melindungimu, ternyata tidak. Aku merasa bersalah sekali.”
“Sudah kumaafkan kok. Lagipula aku sdah mau pulang, nggak baik kan menyimpan dendam. Semua urusan harus beres sebelum aku balik.”
“Apa tidak ada yang bisa menahanmu di sini? Aku misalnya,” kata Haryo, membuat Enggar demam dadakan.
“Mak..maksudnya?”
“Den Enggar, sini!” Bogar melambaikan tangan di seberang, di depan dapur. “Pisang goreng kerispi.”
Enggar menoleh ke arah Bogar dan menganggukkan kepala. Saat dia kembali memandang Haryo, laki-laki itu masih manatapnya. “Aku mau lihat pisang goreng crispy dulu.” Enggar beranjak. Haryo menahan dengan menarik tangannya.
“Den Enggar, sini!” Bogar memanggilnya lagi. Enggar melepaskan tangannya dan berlari menuju dapur, meninggalkan Haryo yang termangu.
Senyum sumringah Bogar menyurut karena Enggar melewatinya dan malah masuk dapur, kemudian jongkok di depan tungku sambil menepuk-nepuk pipinya.
“Panas...panas...” gumam Enggar.
“Jongkok di depan tungku ya panas, Den,” celetuk Bogar. Dia ikut berjongkok di sebelah Enggar. “Apa jangan-jangan Den Enggar jadi demam karena kecebur di danau? Eh, waktu kejadian kemaren, saya betul-betul takut kalau Den Enggar sudah meninggal saat dibawa naik oleh Ketua.”
“Lho, memangnya Pak Bogar sudah ada di sana waktu aku dibawa naik?”
“Iya. Sebenarnya saya sudah mau lari mendekat untuk membantu, tapi tidak jadi waktu Ketua memberi napas buatan pada Den Enggar. Tapi begitu Ketua pingsan setelahnya, saya buru-buru datang.”
Enggar gelagepan. “Ap...apa?” Makin panas saja pipinya, seperti bakpau keluar dari kukusan. Tidak sadar dia menutup mulutnya. Singo Abang memberinya napas buatan? Apa itu berarti Singo Abang menciumnya? Waduuuuh...
“Den. Den Enggar. Den!” seru Bogar. “Ini saya sudah buat tepung kerispinya. Mau dicoba rasanya?” Bogar menyodorkan pisang goreng yang dibuatnya.
“He? Oh iya...iya.” Enggar mencomot satu pisang goreng dan menghabiskannya sekali telan. Dikunyah-kunyah secepatnya kemudian ditelan sambil matanya mendelik. “Enak. Hebat. Aku pergi dulu ya, Pak.” Enggar ngeloyor pergi.
***
Anak-anak dan remaja murid sekolahan Mpu Soma berbaris duduk mengelilingi lapangan. Sore ini ada acara ujian beladiri untuk kenaikan tingkat, sekaligus unjuk kebolehan secara berkelompok. Enggar tak ketinggalan ikut menonton. Dia duduk di bangku yang disediakan Pak Markun, bersebelahan dengan Haryo. Sanip, Jandul dan Bogar duduk di rerumputan, di depan mereka.
Satu kelompok maju ke tengah lapangan. Mereka mempraktekkan beberapa jurus bersamaan. Kekompakan, hafalan gerakan dan keindahan formasi yang dinilai oleh ketua juri, Pak Susatra.
“Jurus apa itu namanya, Kang Sanip?” tanya Enggar pada Sanip.
“Jurus Bangau.”
“Masa’ nama jurusnya cuma Bangau? Di dunia persilatan itu nama jurusnya keren-keren lho, misalnya jurus Tendangan Maut, Dewa Mabuk, Tendangan Tanpa Bayangan, Naga Membelah Angkasa...”
“Memangnya jurus diberi nama sepanjang itu?” tanya Markun.
“Iya dong, biar dramatis. Kalau nama jurusnya hebat kan musuh bisa keder duluan,” kata Enggar memancing orang-orang di sekitar situ untuk berpikir. Haryo tersenyum. Dia suka gaya Enggar yang seperti itu.
“Kalau yang mereka peragakan sekarang pantasnya diberi nama jurus apa ya?” tanya Sanip. “Bagaimana kalau nama jurunya Katak dalam Tempurung?”
“Hehehehe... itu peribahasa, Kang.”
Mereka mulai ramai membahas nama-nama jurus. Setiap ganti giliran beraksi di tengah lapangan sana, terjadilah nama-nama jurus baru. Jurus yang diusulkan Sanip di antaranya: Pungguk Merindukan Bulan, Serigala Berbulu Domba, Anak Ayam Kehilangan Induknya. Patut dicurigai nih. Jangan-jangan peribahasa di masa depan itu Sanip pencipta aslinya.  
Lain Sanip lain pula Bogar. Karena dia seorang koki, nama jurus karangannya tidak beda jauh sama dunianya: Udang Goreng Tepung, Cumi Asam Manis, Bebek Cabe Hijau.
Haryo puas tertawa.
Seseorang datang menghampiri bangku tempat Enggar dan Haryo duduk. Singo Abang. Dari jauh dia melihat mereka kok jadi migren, ya sudah, bergabung saja. Bertiga mereka duduk, Enggar ada di tengah. Mati gaya. Daripada kaku dan beku karena salah tingkah, Enggar turun dan ikut lesehan di rerumputan dengan yang lain.
Markun minta ijin bicara pada Haryo. Ada seseorang membawa pesan untuk Haryo agar dia harus segera balik ke istana. Dilema. Dengan berat hati Haryo pergi dulu menemui si pembawa pesan. Enggar bertanya-tanya dalam hati ada apa lagi. Haryo tidak tampak hingga makan malam. Enggar jadi tambah penasaran.
“Dia dipanggil ke istana,” kata Singo Abang kepada Enggar. Tidak tahan melihat cewek itu celingukan dari tadi menunggu kemunculan Haryo.
Yang datang malah Mpu Soma. Sebenarnya sudah datang sejak sore tadi sih, tapi baru menemui Enggar sekarang. “Besok pagi-pagi sekali kita pergi. Siapkan semua keperluanmu. Pastikan tidak ada yang ketinggalan.”
“Heh? Besok pagi saya bisa pulang?” Senyum Enggar mekar.
“Mungkin saja.”
“Terima kasih, Mpu.” Enggar menyenggol Singo Abang. “Bang, besok aku bisa pulang. Senangnya.”
“Siapa yang pulang?” Haryo datang. Enggar mengacungkan tangan. “Kamu pulang kemana? Kamu benar tidak ingin tinggal di Majapahit bersamaku?”
Ada yang tersedak makanan mendengar kata-kata Haryo barusan.
“Ini bukan tempatku. Meskipun Majapahit tidak sepahit yang kukira, tapi aku lebih memilih untuk berada di tempat yang semestinya.” Enggar menggeser duduknya dekat Haryo. “Aku sekalian pamit aja deh sama Mas Haryo, maafkan aku kalau aku ada salah. Harap semua utangku dianggap lunas, semua pinjaman dianggap impas.”
“Aku baru menemukanmu, masa kamu sudah mau pergi?” Tatapan mata Haryo seperti bius, membuat Enggar lemas.
Singo Abang meletakkan kendi agak keras. Kecurigaannya kalau Haryo menyukai Enggar terbukti. Sepertinya ini saat yang tepat untuk adu pedang dan panah.
Enggar melirik Singo Abang yang sok cool meneruskan makan. Orang itu diam saja meskipun tahu dia akan pergi. Tidak keberatan atau setidaknya bilang apa gitu yang membuat Enggar merasa penting untuknya.
“Enggar, aku dipanggil ke istana malam ini juga dan aku masih ingin bisa melihatmu. Bagaimana kalau kamu ikut aku saja dan tidak usah pulang?” pinta Haryo.
“Tidak menyangka kamu jadi normal karena dia, Har. Kupikir yang akan bisa menakhlukkanmu adalah putri dari seberang lautan yang kecantikannya terkenal hingga tujuh daratan dan lautan,” sindir Singo Abang.
“Eh, Bang Singo, nggak perlu bikin keki orang deh kalau di dalam hati sebenarnya Abang juga ingin aku tinggal. Iya, aku tahu Bang Singo pasti lega banget kalau aku pulang, jadi nggak perlu susah payah menjagaku. Maaf kalau aku sudah merepotkan.“ Enggar mengulurkan tangan ke Haryo dan menyalaminya. “Doakan aku berhasil ya, Mas. Dan hati-hati di perjalanan ke istana. Aku balik ke pondok dulu ya. Mau persiapan mental.”
Enggar pergi dengan tanpa menoleh lagi.
“Apa setelah Enggar pulang kamu akan pulang ke istana?” tanya Haryo ketika mereka tinggal berdua saja.
“Aku tidak berminat pulang ke istana. Di luar sini menyenangkan.”
“Bar, orang tuamu menginginkanmu bekerja untuk istana. Tenagamu sangat diperlukan. Masalah Shiao Lan sudah lama berlalu, apa kau tidak bisa melupakannya?”
“Mereka membuat Shiao Lan dan keluarganya tewas, Haryo.”
“Tapi mereka orang tuamu. Dan tenggelamnya kapal keluarga Shiao Lan itu oleh badai, bukan oleh orang tuamu. Ayolah, jangan bersikap seperti anak kecil, Barata. Orang tuamu tidak menyetujui hubungan kalian, kamu bisa melawannya dan sudah kau buktikan. Tapi maut sudah menjadi garisan takdir. Kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun orang tuamu setuju pun, nasib tetap akan membawa Shiao Lan dan keluarganya dalam badai itu. Berhentilah menghukum mereka.”
“Orangmu sudah menunggumu di sana, kamu harus segera pergi.” Singo Abang seperti tidak peduli omongan Haryo.
“Pikirkan apa yang kukatakan. Aku pergi dulu.”

***

Friday, March 31, 2017

Coming Soon... E-Book DIA and SEMPURNA

Dear Friends,
After waiting in a while (due to technical issue, aka mail was "lost in piles of documents in my hometown"), finally I signed the contract to publish DIA and SEMPURNA in E-Book version. I am so excited :).

Another news, I will be joining Indoreadgram on 23 April 2017, a voluntary program to donate my books - signed by myself, for you to read while commuting by train. You can also join the program and donate books you recommend. Kindly check Indoreadgram instagram account to get further detail on the information of the program (@indoreadgram.
Perhaps I will see you in the event ;).




Wednesday, March 01, 2017

Gandrung #17

Pagi itu Singo Abang keluar dari kamar setelah empat hari istirahat total. Agak terkejut dia saat melihat latihan beladiri kali ini karena ada Enggar yang turut serta. Jandul yang ada tak jauh dari lapangan memberinya salam hormat ketika melihatnya.
“Menurutmu dia akan bisa mempelajari ilmu beladiri dengan cepat?” tanya Singo Abang pada Jandul. Laki-laki berkepala pelontos itu mengangguk, segurat senyum menghiasi bibirnya. “Kuharap juga begitu karena keadaan ke depan akan lebih serius. Jandul, sementara kita di sini. Tunggu berita dari Haryo, baru kita lakukan langkah selanjutnya. Aku sudah menyiapkan beberapa strategi yang akan kubahas bersamamu nanti. Sekarang aku mau jalan-jalan sebentar,” kata Singo Abang sambil menepuk pundak Jandul lalu melangkah pergi. Jandul menganggukkan kepala dan mengantar kepergian Singo Abang dengan pandangan matanya.
Enggar melihat kepergian Singo Abang dengan ekor matanya. Sekitar setengah jam kemudian latihan selesai. Enggar membersihkan badan dulu baru pergi mencari Singo Abang. Ada orang yang melihatnya pergi ke danau, jadi ke situ Enggar pergi.
Danau itu ramai oleh burung belibis. Mereka berenang di tepi danau, berombongan. Beberapa terbang rendah dan dengan manis mendarat di permukaan air. Di sisi lain dari danau, Enggar melihat seseorang sedang berdiri dengan posisi kuda-kuda dan kedua tangannya terentang. Perlahan tangan itu bergerak ke depan dan ke samping. Sesekali berhenti, kemudian mulai lagi. Rupanya Singo Abang sedang melatih gerakan tangannya yang terluka, sudah bisa dipergunakan seperti biasa atau tidak.
“Jangan dipaksa dulu lah, Bang, masih sakit gitu. Nanti kalau sudah pulih baru dipakai berolah kanuragan lagi,” ujar Enggar penuh perhatian. Singo Abang hanya berdeham saja sebagai jawaban. “Katanya mau ngomong sama aku. Ngomong apa?” Enggar mencopot ikat kepalanya agar rambutnya yang masih basah lebih cepat kering, mumpung di danau hanya ada mereka berdua. Digerainya rambut hitam sebahu itu. Segarnya kena angin di pinggir danau.
Tidak terdengar keributan belibis, tidak terlihat pepohonan dan danau, tidak terasa embusan angin. Yang diterima panca indera Singo Abang hanya keberadaan Enggar.  
Muka Singo Abang menghangat lagi. Sial.
Laki-laki itu pura-pura memeriksa lukanya untuk mengembalikan fokusnya. Setelah bisa mengerem debaran jantungnya, Singo Abang melihat ke arah Enggar. Tapi hanya sebentar saja karena suara di dalam dadanya berulah lagi. Singo Abang memalingkan muka.
Enggar bepindah dari tempatnya, lalu berdiri di depan Singo Abang, membuat laki-laki itu kaget. “Mau ngomong apa?” tanya Enggar lagi. Wajahnya memerangkap Singo Abang lekat-lekat.
“Maaf aku lengah menjagamu sampai kamu bisa dibawa pergi ke Mertabumi. Kamu sampai dilukai oleh mereka, aku benar-benar menyesal. Ini salahku,” kata Singo Abang serius. Selain serius meminta maaf, dia juga serius berkonsentrasi agar pikirannya tidak terpecah oleh gejolak hatinya.
“Oh.” Enggar menjawab pendek. Ada sedikit rasa kecewa, dipikirnya bukan itu yang mau dibicarakan Singo Abang. “Bukan salahmu kok, Bang.”
“Aku juga ingin mengucapkan terima kasih, kamu telah susah payah membawaku kemari dan merawatku selama di perjalanan,” ujar Singo Abang.
“Kok pembicaraannya jadi resmi begini. Santai saja, Bang.” Enggar cengengesan. Berharap Singo Abang tersenyum. Tapi laki-laki itu hanya diam menatapnya. “Yang kulakukan itu nggak sebanding dengan kebaikan Bang Singo padaku. Abang sudah berkali-kali menyelamatku. Satu-satunya orang yang bisa kupercaya walaupun suka marah. Selalu bisa diandalkan, meskipun seringnya menyebalkan.” 
Enggar mencoba mengurangi rasa grogi yang menyerangnya akibat tatapan mata Singo Abang.
“Kamu ini mau memuji apa menghina?” Suara Singo Abang meninggi. 
Enggar nyengir. “Bercanda, bang,” kata Enggar sambil nonjok lengan kanan Singo Abang. Cowok itu langsung menyeringai kesakitan. “Maaf, maaf, kena lukanya ya?” Enggar memencet luka itu, antara sengaja dan tidak.
“Hei, kamu ini!” Singo Abang mulai emosi karena Enggar menggoda dia.
“Ya, ya, maaf.” Mulut bilang maaf, tapi tangan maju untuk menyentuh luka Singo Abang. Belum jari-jari Enggar sampai, tangan kiri Singo Abang memelintirnya duluan.
Enggar segera memutar badannya untuk melepaskan diri dari tangan Singo Abang. Salah satu gerakan bela diri yang dipelajarinya di sini berhasil dipraktekkan.
“Kamu sudah berlatih.” Singo Abang manggut-manggut.
“Iyalah.” Enggar membanggakan diri. “Aku selalu kebagian babak belur di Majapahit ini, kalau aku nggak serius belajar beladiri, bisa korban penganiayaan terus. Makanya kuputuskan sejak kembali ke sini aku akan giat berlatih. Nanti sore aku mau berlatih pedang sama Pak Jandul.”
“Aku bisa melatihmu.” Singo Abang menawarkan diri.
“Nggak deh, makasih. Aku susah belajar kalau gurunya galak, cerewet,...”
“Tidak mudah juga punya murid lamban, refleksnya payah, suka menangis, sering pingsan, berisik,” balas Singo Abang.
“Hoi hoi.” Enggar berkacak pinggang tidak terima. “Aku yang begitu ramah, cantik, cerdas dan tanggap begini diremehkan. Abang nggak tahu saja bagaimana aku bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah. Kalau Bang Singo melihat kepiawaianku bersilat lidah dengan Cakrawaja, Tumenggung Sukmo dan orang bergelang naga itu,  pasti terkagum-kagum padaku.”
“Aku ingin membahas itu denganmu. Kamu belum menceritakan apa yang terjadi di sana. Apa ada informasi yang kamu dapatkan saat pertemuanmu dengan mereka? Suatu rencana mungkin.”
“Itu dia. Mereka terus memaksaku untuk mengatakan pada siapa kuberitahu rencana mereka. Padahal sebelumnya aku sama sekali tidak tahu rencana apa itu. Tapi karena kepiawaianku bersandiwara, aku agak bisa menduga-duga kalau mereka akan melakukan sesuatu terhadap Majapahit. Ketika kubilang Gajah Mada sudah kuberitahu tentang rencana itu dan kuingatkan kalau semua pemberontakan hingga Hayam Wuruk berkuasa bisa diberantas tuntas, mereka agak gentar.”
“Kamu menyebutkan nama Hayam Wuruk? Kamu sudah lupa pesan Mpu Soma?”
“Kepepet, Bang. Yang penting mereka nggak tahu aku dari masa depan, walaupun Cakrawaja sempat menuduhku bukan Anggoro. Untung hanya dia yang curiga, lainnya mengira aku kesurupan. Oh ya, aku jadi ingat. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih sama Abang. Panah beracun waktu itu sebenarnya ditujukan padaku kan? Kalau Bang Singo nggak melindungiku, aku pasti sudah mati.”
“Kamu adalah tanggung jawabku, wajar aku melakukan itu. Tidak usah diungkit lagi. Sampai kamu bertemu dengan Pangeran Palawa, baru aku bisa tenang.” Saat Singo Abang berkata itu, raut wajahnya berubah.
Terlintas kejadian waktu itu. Anak panah yang dilepaskan Cakrawaja meluncur kencang ke arah Enggar. Tinggal sedetik saja sebelum Singo Abang melesat dan memeluk Enggar untuk menghindarkan gadis itu dari bahaya. Satu detik setelah itu sengatan panas menghentak di bawah pundaknya, rasa terbakar menyebar ke punggung. Singo Abang merasakan tubuh Enggar menjadi berat dan mereka berdua terjatuh ke tanah. Saat itulah Singo Abang panik, mengira panahnya tembus hingga ke Enggar.
Untung darah di tubuh Enggar berasal adalah darahnya. Singo Abang pasti akan mengutuk dirinya seumur hidup kalau sampai Enggar terluka. Enggar adalah tanggung jawab yang diberikan padanya oleh Pangeran Palawa untuk dijaga. Dia tidak boleh mengecewakan Pangeran Palawa.
Bohong. Bukan itu alasannya.
“Menurut Bang Singo mereka akan memberontak?” Pertanyaan Enggar membuyarkan lamunan Singo Abang.
“Ya, aku juga curiga begitu. Tapi masih belum ada bukti-bukti kuat. Sementara yang bisa diusut hanyalah tentang pembunuhan Sukmana. Kamu, maksudnya Anggoro, yang seharusnya menjadi saksi kunci tentang pembunuhan maupun keterkaitannya dengan rencana itu tidak bisa dimintai keterangan.”
Enggar menghela napas berat, membenarkan kata-kata Singo Abang barusan. Kuncinya memang Anggoro, sayangnya dia bukan Anggoro dan dia tak tahu apa-apa. “Kurasa Cakrawaja tahu banyak, Bang. Kalau dia bisa ditangkap dan mau mengakui rencana mereka, mungkin akan lebih mudah masalahnya selesai sebelum membesar.”
“Cakrawaja adalah anak salah satu menteri yang punya kedudukan kuat. Meskipun dia sedang tidak rukun dengan orangtuanya, tapi mereka juga tidak akan tinggal diam kalau Cakrawaja ditangkap,” kata Singo Abang.
“Jadi dia bisa lolos meskipun sudah menjahati orang-orang?” tanya Enggar. Singo Abang mengangguk. “Nggak di jaman ini nggak di masa depan, sama aja ternyata,” gumam Enggar. “Sepertinya meskipun jaman berganti berkali-kali, peradaban berubah-ubah, inti-inti kejahatan tetap saja sama.”
“Keadaan di masa depan sama saja dengan masa sekarang? Berarti kamu tidak perlu susah-susah cari cara untuk pulang. Kamu bisa tinggal di sini seterusnya. Toh sama saja,” gumam Singo Abang, cukup jelas terdengar di telinga Enggar.
“Tinggal di sini seterusnya? Ogah! Aku tetap mau pulang.” Enggar melemparkan batu ke danau. Batu itu membubarkan kelompok belibis yang asyik berenang, membuat mereka terbang bersamaan.
“Kamu tidak ingin bersamaku?” Pertanyaan itu tidak bisa ditahan oleh Singo Abang.  Enggar terpaku, menatap Singo Abang yang memandanginya. “Aku hanya bercanda, tidak perlu dijawab. Oh ya, Mpu Soma sudah menemui kakak seperguruannya untuk mendiskusikan tentangmu. Tapi aku tidak tahu sejauh mana pembicaraan mereka. Kamu bisa menanyakannya nanti.”
“Baiklah.” Enggar berjalan menuju tepi danau. “Bang, aku mau nyebur ke danau, sudah lama nggak berenang” kata Enggar. Dia melepas sandalnya dan terjun ke danau. 
 “Hati-hati airnya dingin,” ujar Singo Abang.
“Kenapa nggak dari tadi bilangnya! seru Enggar, gemetaran menahan dingin.
Singo Abang menahan senyum. “Gerakanmu lebih cepat daripada kata-kataku.” Laki-laki itu mengulurkan tangan kirinya, hendak membantu Enggar naik. Gadis itu cemberut kesal, tapi bergerak menuju Singo Abang. Namun belum sampai tepian, ada sesuatu yang menahan kaki Enggar.
Tiba-tiba Enggar tersentak dan tertarik masuk ke dalam air. Tangannya menggapai-gapai, meminta pertolongan Singo Abang. “Bang!” teriaknya ketika sempat muncul kembali ke permukaan, sebelum tenggelam lagi. Posisi Enggar sudah agak jauh dari tempatnya semula.
Laki-laki itu langsung terjun mengejar Enggar. Rasa menyengat dan nyeri tidak dipedulikan Singo Abang. Dia menyelam mencari keberadaan Enggar. Tatapannya liar menuju ke segala arah. Singo Abang naik ke atas untuk mengambil napas lalu masuk ke dalam air lagi. Dia sangat kuatir dengan keselamatan Enggar karena sudah berada di dalam air lebih dari kemampuan rata-rata orang bisa menahan napas.
Sesosok tubuh terkulai di badan air di depan sana. Singo Abang mempercepat gerakannya. Direngkuhnya tubuh Enggar dan ditarik ke atas. Sesuatu menyangkut di kakinya. Singo Abang harus melepaskannya dulu. Enggar terangkat begitu kakinya bebas. Singo Abang meraih tubuhnya dan membawanya ke atas.
Belibis-belibis terbang dan sebagian berenang menjauh ketika kepala Singo Abang muncul di permukaan diikuti kepala Enggar. Tangan kanan Singo Abang memeluk Enggar sementara tangan kirinya mengayuh.
Singo Abang mengerang kesakitan saat menarik tubuh Enggar keluar dari danau. Tapi dia tidak bisa beristirahat sekarang. Enggar harus disadarkan. “Bisa tidak sekali-kali tidak membuatku kuatir,” gerutu Singo Abang sambil memeriksa denyut nadi Enggar. Dia lalu menekan-nekan perut Enggar untuk mengeluarkan air. “Ayo, bangun, Enggar!” Singo Abang memukul tanah karena kepalanya mulai berdenyut-denyut hebat dan pandangan matanya kabur. “Sialan. Awas kalau kamu tidak bangun juga.”
Singo Abang sedikit mendongakkan kepala Enggar. Sebelum pingsan dia harus sudah bisa menyadarkan Enggar. Dalam keadaan pandangan mata hampir gelap, Singo Abang memberikan napas buatan.
Suara Enggar yang sedang terbatuk batuk-batuk dengan air yang keluar dari mulutnya adalah suara terindah yang pernah didengar Singo Abang sebelum dia hilang kesadaran.

***

Thursday, February 09, 2017

Gandrung #16

Enggar stres. Biasanya dia hanya menjadi pengikut saja dalam perjalanan, sekarang dia yang memimpin perjalanan. Meskipun masih Singo Abang yang mengendalikan kuda, tapi Enggar yang membuat keputusan kapan mereka istirahat atau melanjutkan perjalanan. Dia juga harus merawat Singo Abang, menyiapkan makan, mengurus kuda dan lain sebagainya. Bukannya dia keberatan, justru dia merasa kuatir kalau apa yang dilakukannya kurang maksimal.
Singo Abang merasa kasihan pada Enggar. Dia tahu Enggar lelah, walau gadis itu berusaha untuk selalu tegar dan ceria. Setiap hari dia hanya tidur tidak lebih dari empat atau lima jam. Dengan sabar dia mengurusi Singo Abang. Mengompresnya saat demam, mengganti perban, membersihkan luka yang semakin tidak enak dilihat, bahkan menyuapinya makan.
“Awas saja kalau Bang Singo berani mati. Pokoknya Abang harus kuat. Kalau Abang meninggalkanku sendirian di Majapahit, aku akan benci Abang seumur hidup,” ancam Enggar setiap kali Singo Abang melemah. Lalu gadis itu memeluknya erat. “Jangan tinggalkan aku ya, Bang.”
Pada hari ketiga mereka sampai di Ketanggung. Enggar harus berlari ke pendopo dan memanggil bantuan karena Singo Abang sudah keburu pingsan di atas kuda sebelum tiba di pintu gerbang.
Untunglah Mpu Soma ada di tempat. Dia meminta Pak Susatra untuk membawa Singo Abang ke pondok pribadinya, sedangkan Enggar hanya bisa menunggu dengan gelisah di kamarnya.
Kantuk sudah sedari tadi menyerangnya, tapi Enggar nggak bisa tidur sebelum tahu bagaimana keadaan Singo Abang. Anak-anak yang bersekolah di sana mendatangi Enggar, menanyakan keadaannya dan berusaha menghiburnya.
Selama dua hari Enggar tidak diperbolehkan menengok Singo Abang, membuatnya makin penasaran dengan keadaan laki-laki yang telah menyelamatkannya itu. Mpu Soma bilang Singo Abang tidak boleh diganggu. Tapi bukan Enggar kalau tidak mencari cara. Entah mengintip atau minta bocoran dari Pak Sukarsa mengenai perkembangan kesehatan Singo Abang.
Malam ini, saat Enggar sibuk melipat pakaian, ada orang mengetuk pintu pondoknya. Semoga ada yang mengabarkan kalau dia boleh menengok Singo Abang.
“Puteri!” Tiga wajah terpampang di depan Enggar. Jandul, Bogar dan Sanip rupanya sudah sampai ke Ketanggung.
“Pak Bogar, Pak Jandul, Kang Sanip!” Enggar menyalami mereka satu per satu. “Kapan datangnya? Sudah tahu bagaimana keadaan Bang Singo? Aku belum dikasih ijin untuk menengok. Oh ya, Bagaimana kabar kalian?”
 “Kami buru-buru kemari begitu mendengar kabar Putri menghilang. Sampai di sini malah diberitahu Ketua terluka. Tapi untunglah Puteri selamat. Ketua orangnya kuat dan jagoan, pasti akan sembuh, Puteri jangan kuatir,” kata Bogar.
“Permisi.” Pak Susatra datang menghampiri mereka. “Maaf, Nakmas Barata ingin bertemu dengan Den Enggar dan kalian. Silahkan, semuanya sudah ditunggu di pondok Mbah So.”
“Asyik!” Enggar bersorak. “Ayo, Pak, buruan yuk!” Enggar lalu sibuk mendorong mereka keluar dari pondoknya. 
Mereka sampai di pondok Mpu Soma, tempat Singo Abang dirawat. Enggar mau langsung menyerbu, tapi ditahan oleh Pak Susatra karena diminta bergiliran masuknya. Urutannya adalah Jandul, Bogar, Sanip, baru kemudian Enggar.
Satu persatu mereka masuk dan keluar. Untung cuma sebentar-sebentar. Pada saat tiba gilirannya, Enggar justru malah jadi ragu untuk masuk. Jantungnya deg deg an luar biasa dan entah kenapa hatinya terasa tidak karuan. Dia sampai harus mengingatkan diri sendiri untuk bisa menahan gejolak aneh yang merasukinya.
Setelah beberapa kali mengambil napas panjang, Enggar masuk. Tapi ketika dia sudah tiba di tempat Singo Abang berbaring, dilihatnya laki-laki itu sudah memejamkan mata. Apakah dia tidur? Enggar pelan-pelan mendekatinya.
Napas Singo Abang naik turun teratur, nampaknya memang tidur. Rupanya Enggar terlalu lama membuatnya menunggu. Tapi tidak apa. Kesempatan itu digunakannya untuk memandang wajah Singo Abang sampai puas. Tak sadar tangan gadis itu terulur, hendak menyentuh luka di dada kanan Singo Abang.
“Barata. Minum obatnya dulu.” Datanglah Mpu Soma dengan membawa cawan berisi cairan berwarna kehijauan untuk diminum Singo Abang. Laki-laki itu membuka mata, agak kaget melihat keberadaan Enggar. Mereka saling menatap, tapi hanya sekilas karena Enggar terpaksa menyingkir, memberi tempat pada Mpu Soma untuk memberi obat. Enggar duduk di kursi tak jauh dari balai-balai tempat Singo Abang berbaring miring.
Setelah obat habis diminum, Mpu Soma memeriksa luka Singo Abang, sambil mengajaknya bicara cukup lama. Mpu Soma keluar dari ruangan kira-kira lima belas menit kemudian, setelah membaca bahasa tubuh Singo Abang yang sudah tidak sabar untuk berbicara dengan Enggar.
“Aku tidak melihatmu beberapa hari ini. Bagaimana keadaanmu?” tanya Singo Abang sambil mengalihkan pandangan ke Enggar. “Hei. Enggar!” panggil Singo Abang. Enggar tidak menyahut, rupanya ketiduran di kursi. Kepalanya tersandar di dinding dan kedua tangannya terkulai di pangkuannya.
Singo Abang bangun dari tempatnya berbaring. Pelan-pelan dia berjalan menuju lemari dan mengambil kain. Diselimutkannya kain itu ke Enggar. Termangu Singo Abang di sampingnya. Menatap wajah Enggar dengan penuh rasa rindu. Rasa hangat tiba-tiba menyebar di wajahnya. Singo Abang mundur, menyadari keinginannya untuk mencium gadis itu tidak boleh dilakukannya.
Singo Abang hendak kembali ke balai-balai ketika tiba-tiba mendengar suara berdebum. Bukan benda, tapi Enggar! Saking lelapnya, tubuhnya oleng ke samping, dan gaya gravitasi langsung menariknya ke bumi.
Enggar geragapan dan kontan berdiri. Ada dimana dia sekarang? Enggar menoleh ke kanan dan ke kiri. Kaget dia setelah sadar bahwa dia meringkuk di tanah.
“Awas kalau ketawa!” ancamnya ketika mendapati Singo Abang mematung di dekat balai-balai, menatapnya lurus.
Enggar bergegas keluar dari kamar itu sebelum mukanya terbakar karena malu. Sampai di luar Enggar langsung berjongkok, mengacak-acak rambutnya. Duuuh, kenapa dia sampai ketiduran? Sampai tumbang ke tanah segala, hancur sudah keanggunannya.
Eh, tadi dia melihat kain tergeletak di tanah. Apa Singo Abang menyelimutinya?
Enggar bangun dan kembali ke kamar Singo Abang. Laki-laki itu terbaring dengan mata terpejam, seperti posisi ketika Enggar masuk pertama kali. Di kursi tempat dia ketiduran, Enggar tidak melihat adanya selimut.

***